Kisah Pasien Program JKN Jalani Hemodialisis Tanpa Cemas

Sabtu, 27 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Rince Liu (57)

Salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Rince Liu (57)

“Dulu saya menganggap remeh diabetes yang saya derita. Kewajiban saya sebagai seorang guru membuat saya abai terhadap pengobatan rutin. Saya pikir semua bisa diatasi seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata saya salah, saat fungsi ginjal mulai menurun dan tubuh terasa sangat lemah, saya baru sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” kata Rince Liu.

KUPANG, MEDIASI NTT.COM – Hemodialisis atau yang lebih umum dikenal dengan cuci darah adalah terapi medis yang digunakan untuk menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring darah sehinggga menjadi lebih baik.

Terapi ini sangat penting bagi pasien dengan indikasi gagal ginjal atau penyakit ginjal kronis yang sudah tidak dapat berfungsi dengan baik. Salah satu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Rince Liu (57) merasakan sendiri betapa pentingnya terapi ini dalam kehidupannya.

Rince seorang guru asal Kabupaten Timor Tengah Selatan, telah menjalani hemodialisis secara rutin selama satu tahun terakhir. Dua kali dalam seminggu ia harus datang ke rumah sakit di Kota Kupang untuk menjalani prosedur ini. Di tengah kondisi tubuh yang melemah, Rince tetap bersyukur karena mendapatkan akses pengobatan yang memadai.

“Rasanya sedih dan tidak sanggup ketika harus mengalami berbagai dampak dari penyakit ini. Mual, muntah, kram otot, sesak napas dan tidak bisa mengonsumsi makanan apapun. Untungnya, banyak yang masih sayang dan dengan sabar merawat saya, makanya saya memilih untuk tetap semangat berobat,” lanjutnya.

Perjalanan kesehatannya bermula empat tahun lalu, saat ia pertama kali didiagnosis menderita diabetes. Namun karena kesibukan mengajar dan kurangnya perhatian terhadap kondisi kesehatannya, gejala-gejala lain mulai bermunculan. Ia mengalami penurunan fungsi ginjal secara bertahap hingga akhirnya divonis menderita gagal ginjal kronis pada tahun 2024.

“Dulu saya menganggap remeh diabetes yang saya derita. Kewajiban saya sebagai seorang guru membuat saya abai terhadap pengobatan rutin. Saya pikir semua bisa diatasi seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata saya salah, saat fungsi ginjal mulai menurun dan tubuh terasa sangat lemah, saya baru sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” ceritanya.

Kini, Rince rutin menjalani hemodialisis di rumah sakit rujukan dengan pelayanan yang menurutnya sangat baik. Meski harus berbagi kamar dengan pasien lain, ia merasa puas dengan fasilitas dan perhatian dari tenaga kesehatan yang merawatnya.

“Di sini saya merasa nyaman. Walaupun satu kamar berisi dua orang, saya tidak keberatan karena memang sudah sesuai dengan hak kelas peserta BPJS Kesehatan. Sarana dan prasarana cukup lengkap dan menunjang proses pengobatan. Itu yang paling penting,” tambahnya.

Ia juga menyoroti perbedaan antara kenyataan pelayanan dengan stigma yang beredar di masyarakat. Menurutnya banyak orang meremehkan Program JKN karena merasa masih sehat. Padahal, saat kondisi darurat datang, pembiayaan bisa menjadi beban yang berat.

“Banyak orang yang merasa saat ini sehat dan menganggap remeh Program JKN. Namun ketika tiba-tiba sakit dan butuh pengobatan intensif seperti saya, barulah terasa betapa pentingnya perlindungan kesehatan. Biaya pengobatan untuk gagal ginjal tidaklah sedikit. Selain hemodialisa, ada juga obat-obatan tambahan dan tindakan medis lainnya yang perlu dilakukan secara rutin,” jelas Rince.

Ia bersyukur telah menjadi peserta aktif JKN sejak masih bekerja, sehingga sekarang saat membutuhkan pelayanan kesehatan Rince tidak perlu khawatir karena sudah terdaftar di program ini.

“Terima kasih BPJS Kesehatan. Saya bisa menjalani pengobatan tanpa harus memikirkan biaya. Iuran yang saya bayar dulu sekarang terasa sangat berarti. Semua proses pengobatan saya ditanggung penuh, tanpa harus keluar uang sepeserpun,” ucapnya dengan penuh haru.

Di akhir ceritanya, Rince berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya memiliki perlindungan kesehatan sejak dini. Ia juga berharap agar Program JKN  terus berlanjut dan semakin ditingkatkan kualitas pelayanannya.

“Saya hanya ingin bilang ke orang-orang di luar sana bahwa jangan tunggu sakit dulu baru peduli. Segera daftarkan diri jadi peserta BPJS Kesehatan selagi masih sehat, karena kita tidak pernah tahu kapan sakit datang. Saya sudah membuktikan sendiri manfaatnya,” tutupnya.(fr/ok/beny)

 

Berita Terkait

PKM Undana Luncurkan Program Pemberdayaan Ekonomi Bagi Warga Oesao
Undana Bersama OJK Kupang Gelar Diskusi Literasi Keuangan Cegah Jebakan Pinjol
PKM Undana Olah Kacang Merah Jadi Tepung Bakso Dan Nugget
SMPK St Teresia Kupang Tampil Sebagai Juara Cerdas Cermat PPKN NTT
Winston Rondo Prihatin, Bangunan Sekolah Dibiarkan 10 Tahun Tanpa Perbaikan
Undana Siapkan Program Tutorial Presentasi Bahasa Inggris Gratis Bagi Mahasiswa
Undana Perkuat Pengetahuan Biologi Melalui Cerdas Cermat Tingkat SMP/MTS Di NTT
Fakultas Hukum Undana Bedah Konsep Baru KUHP Dan KUHAP Baru

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 13:30

PKM Undana Luncurkan Program Pemberdayaan Ekonomi Bagi Warga Oesao

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 13:07

Undana Bersama OJK Kupang Gelar Diskusi Literasi Keuangan Cegah Jebakan Pinjol

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:53

PKM Undana Olah Kacang Merah Jadi Tepung Bakso Dan Nugget

Jumat, 23 Oktober 2026 - 04:34

SMPK St Teresia Kupang Tampil Sebagai Juara Cerdas Cermat PPKN NTT

Kamis, 22 Oktober 2026 - 05:49

Winston Rondo Prihatin, Bangunan Sekolah Dibiarkan 10 Tahun Tanpa Perbaikan

Berita Terbaru

UNDANA DALAM PANDANGAN MATA

PKM Undana Luncurkan Program Pemberdayaan Ekonomi Bagi Warga Oesao

Minggu, 25 Okt 2026 - 13:30

UNDANA DALAM PANDANGAN MATA

Undana Bersama OJK Kupang Gelar Diskusi Literasi Keuangan Cegah Jebakan Pinjol

Sabtu, 24 Okt 2026 - 13:07