“Ini menunjukkan satu komitmen yang besar bagi pengurus yang ada saat ini untuk memajukan olahraga bola voli Indonesia,” kata Alfonsus Theodorus
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Kadispora) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. Alfonsus Theodorus, S.T., M.T., secara resmi membuka Turnamen Bola Voli SMSI CUP I 2026 di GOR Bahtera Nuh Artha Wacana, Universitas Kristen Artha Wacana (UNKRIS) Kupang.
Pembukaan turnamen tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat pembinaan dan kompetisi bola voli di NTT. Sebanyak 22 tim ambil bagian dalam turnamen yang diselenggarakan oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi NTT tersebut.
Dalam sambutannya, Alfonsus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya SMSI CUP I 2026. Menurut dia, penyelenggaraan turnamen tersebut menunjukkan adanya komitmen bersama antara pemerintah, pengurus cabang olahraga, media, dan berbagai pihak untuk mendorong kemajuan olahraga bola voli.
“Sebagaimana yang disampaikan Ketua Umum PBVSI NTT bahwa terdapat 37 turnamen untuk tahun ini. Saya pikir ini awal yang baik,” ujar Alfonsus.
Ia menilai keterlibatan berbagai elemen, termasuk mantan pengurus olahraga yang tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan olahraga, menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pembinaan yang berkelanjutan.
Menurut Alfonsus, kehadiran 22 tim dalam SMSI CUP I 2026 juga menunjukkan besarnya antusiasme dan komitmen terhadap perkembangan bola voli di NTT.
“Ini menunjukkan satu komitmen yang besar bagi pengurus yang ada saat ini untuk memajukan olahraga bola voli Indonesia,” kata Alfonsus Theodorus
Ia menegaskan, kemajuan olahraga tidak dapat hanya diukur dari suksesnya sebuah pertandingan. Kompetisi harus menjadi ruang untuk melahirkan pengalaman, meningkatkan kemampuan atlet, membangun mental bertanding, sekaligus menghasilkan prestasi.
“Tidak ada juara yang datang dari langit. Juara itu datang dari usaha-usaha yang luar biasa,” tegasnya.
Alfonsus menaruh perhatian khusus terhadap pembinaan atlet usia muda. Menurutnya, masa depan bola voli Indonesia sangat bergantung pada kemampuan semua pihak dalam menyiapkan atlet sejak usia dini.
Karena itu, kompetisi seperti SMSI CUP I 2026 harus dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembinaan, bukan sekadar mengejar kemenangan dalam sebuah pertandingan.
Ia berharap turnamen tersebut dapat menjadi ruang untuk menemukan bibit-bibit unggul NTT yang nantinya mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
“Saya berharap sekali dalam kesempatan ini akan ada bibit-bibit unggul untuk mementaskan bola voli agar bisa melangkah ke tingkat internasional,” ujarnya.
Alfonsus meyakini NTT memiliki potensi atlet yang dapat dikembangkan melalui sistem pembinaan yang konsisten. Untuk mencapai prestasi tersebut, diperlukan kompetisi yang berkelanjutan, pelatih yang berkualitas, dukungan organisasi, serta keterlibatan pemerintah dan masyarakat.
Ia juga mengingatkan agar seluruh pihak tidak berhenti melakukan evaluasi terhadap proses pembinaan atlet.
Menurut dia, target prestasi memang penting. Namun, yang lebih penting adalah melihat sejauh mana kualitas atlet mengalami peningkatan setelah mengikuti berbagai kompetisi.
“Jangan pernah berhenti bekerja untuk kemajuan olahraga bola voli,” katanya.
Alfonsus menekankan bahwa penyelenggaraan turnamen harus memiliki dampak yang lebih luas terhadap perkembangan olahraga.
Ia menyebut sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari peningkatan kemampuan atlet, penguatan kelembagaan, peningkatan mental bertanding hingga kualitas kompetisi.
“Target itu penting, tetapi yang lebih penting adalah seberapa luas kita bisa membuat atlet ini menjadi lebih baik. Apakah ada peningkatan? Apakah institusi semakin kuat? Apakah institusi semakin baik? Apakah mental bertanding meningkat?” ujarnya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, lanjut dia, harus menjadi bahan evaluasi setiap kali sebuah kompetisi selesai dilaksanakan.
Dengan demikian, turnamen tidak berhenti pada seremoni pembukaan dan penutupan, tetapi menghasilkan catatan pembinaan yang dapat digunakan untuk mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi berikutnya.
“Evaluasi akan kita lakukan hari ini sampai nanti. Apakah kita puas dengan prestasi yang kita punya? Tidak. Kita perlu kerja keras,” tegas Alfonsus.
Dalam kesempatan tersebut, Alfonsus juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengurus cabang olahraga, media, atlet, wasit, pelatih, serta seluruh pemangku kepentingan olahraga.
Menurutnya, kemajuan bola voli tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak. Dibutuhkan sinergi dan komitmen bersama untuk menciptakan sistem pembinaan yang mampu melahirkan atlet berprestasi.
“Kita harus bersatu padu untuk mewujudkan mimpi ini menjadi nyata,” katanya.
Ia menilai keterlibatan media dalam penyelenggaraan turnamen juga memiliki arti penting. Media tidak hanya berperan dalam menyebarluaskan informasi pertandingan, tetapi dapat ikut membangun ekosistem olahraga dengan memberikan ruang bagi atlet dan prestasi olahraga daerah.
SMSI CUP I 2026, lanjut Alfonsus, menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan kepentingan tersebut dalam sebuah kompetisi yang sehat dan kompetitif.
Ia berharap turnamen tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang pembinaan bola voli NTT menuju level yang lebih tinggi.
“Sudah pasti bola voli akan menjadi perhatian penting. Kita harus terus berjalan dengan baik. Kita tidak hanya sukses penyelenggaraan, kita harus sukses prestasi,” ujarnya.
Alfonsus menegaskan, turnamen yang diikuti 22 tim tersebut merupakan bagian dari proses evaluasi, eksistensi, dan komitmen bersama dalam mengembangkan olahraga bola voli.
Menurut dia, setiap pertandingan harus memberikan pengalaman bagi atlet sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pelatih dan pengurus.
Ia berharap muncul atlet-atlet muda yang mampu menunjukkan potensi terbaik selama kompetisi berlangsung.
“Bahwa kegiatan hari ini merupakan bentuk evaluasi, eksistensi, dan komitmen bersama dalam mengembangkan olahraga ini sebagai salah satu tangga kecil untuk memajukan tim bola voli Indonesia,” katanya.
Dengan dibukanya SMSI CUP I 2026, Alfonsus mengajak seluruh peserta menjadikan turnamen tersebut sebagai kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, menjunjung sportivitas, serta menunjukkan semangat berkompetisi.
Ia kemudian secara resmi membuka Turnamen Bola Voli SMSI CUP I 2026.
“Dengan memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Esa dan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, Turnamen Bola Voli SMSI CUP I 2026 secara resmi saya nyatakan dibuka,” ujar Alfonsus.
Pembukaan tersebut menandai dimulainya persaingan antartim dalam SMSI CUP I 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama membangun pembinaan bola voli NTT yang berkelanjutan, kompetitif, dan berorientasi pada prestasi.
Ketua Umum Pengprov PBVSI NTT menegaskan bahwa NTT sesungguhnya tidak kekurangan talenta bola voli. Persoalan yang perlu terus dijawab adalah bagaimana menyediakan lebih banyak panggung kompetisi bagi para atlet.
“NTT tidak kekurangan talenta bola voli. Yang kita perlukan adalah lebih banyak panggung. SMSI Cup I adalah salah satu panggung itu,” tegasnya.
Menurutnya, sebuah turnamen tidak boleh hanya dilihat dari siapa yang menjadi juara dan siapa yang kalah.
“Dari lapangan ini kita mencari pemain. Kita memberi jam terbang. Kita menguji mental bertanding. Kita melihat pelatih bekerja. Kita membangun kualitas wasit. Kita memperkuat klub. Dan yang paling penting, kita sedang membangun ekosistem bola voli NTT,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada SMSI NTT karena mengambil bagian langsung dalam pembangunan olahraga.
Menurutnya, selama ini wartawan lebih banyak berada di pinggir lapangan untuk mengambil gambar, menulis berita dan memberitakan pertandingan. Namun melalui SMSI Cup, media mengambil peran lebih jauh dengan ikut menciptakan ruang kompetisi.
“Hari ini wartawan tidak hanya memberitakan voli. Wartawan ikut membangun voli,” katanya.
Ketua Umum PBVSI NTT menegaskan bahwa persiapan menuju PON XXII NTT–NTB 2028 tidak boleh baru dimulai ketika pesta olahraga nasional tersebut berlangsung. (Ben)












