“Desa tidak hanya dipandang sebagai tempat pemeliharaan ternak secara tradisional, tetapi dapat dikembangkan sebagai lingkungan yang mampu menyediakan tenaga terampil dan layanan reproduksi ternak berbasis masyarakat,” tegas Yustiany.
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar program pelatihan teknologi Inseminasi Buatan (IB) ternak pengembangan usaha ternak babi bagi pemuda usia produktif yang belum memiliki pekerjaan tetap di Desa Pukdale, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Program pendampingan ini dipimpin langsung oleh Yustiany Y. Bette sebagai ketua tim, bersama anggota tim pengabdi yang terdiri atas Ronny Markus Jami Riwu, Alvrado Bire Lawa, David Agustinus Nguru, Nitty Cendrabagusti Mafefa, dan Maria Kristina Sinabang.
Pelaksanaan program ini memegang peranan penting dalam mengatasi pengangguran usia produktif pedesaan melalui penciptaan tenaga inseminator lokal yang terampil dan mandiri. Kehadiran jasa reproduksi ternak berbasis pemuda ini tidak hanya membuka peluang usaha baru bagi pemuda setempat, tetapi juga mempermudah para peternak babi di Desa Pukdale dalam mengakses layanan IB yang cepat, efisien, dan sesuai kondisi wilayahnya.
Rangkaian kegiatan pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mencakup pemahaman teoretis mengenai anatomi dan fisiologi reproduksi ternak babi, siklus reproduksi, deteksi berahi (estrus), penanganan semen cair segar, hingga prinsip-prinsip IB yang tepat. Selain pembekalan materi di kelas, peserta diberikan kesempatan untuk melakukan demonstrasi dan praktik langsung di lapangan.
Dalam sesi praktikum, peserta berlatih menjalankan seluruh tahapan secara mandiri, mulai dari persiapan alat dan bahan, identifikasi ternak berahi, introduksi kateter, hingga prosedur inseminasi dengan menerapkan prinsip kebersihan dan biosekuriti reproduksi.
“Program ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya pemuda, dalam penerapan teknologi reproduksi ternak babi sehingga dapat menciptakan tenaga inseminator lokal yang terampil, mandiri, dan mampu mengembangkan usaha jasa reproduksi ternak di tingkat desa,” ungkap Yustiany selaku ketua Tim PkM.
Selain menggembleng keterampilan teknis (psikomotorik), tim PKM Undana turut memberikan pembekalan manajemen usaha dan kewirausahaan bagi para peserta. Pemuda diajarkan cara mengelola layanan jasa IB, sistem pencatatan ternak, komunikasi profesional dengan peternak, penetapan alokasi biaya jasa, serta strategi pemasaran digital.
Guna memperluas jangkauan layanan di tingkat lokal, para peserta dilatih memanfaatkan media sosial serta aplikasi WhatsApp Business untuk mempromosikan jasa inseminasi buatan kepada masyarakat luas.
Program pelatihan ini mencatatkan peningkatan kapasitas peserta yang sangat signifikan berdasarkan hasil evaluasi terukur. Pemahaman kognitif peserta melonjak sebesar 27,60 persen, dari nilai rata-rata pre-test sebesar 70,18 persen menjadi 97,76 persen pada post-test.
Dari sisi uji kinerja psikomotorik, sebanyak 86,7 persen atau 13 orang dari total 15 peserta dinyatakan sangat terampil dan mampu menjalankan seluruh prosedur IB secara mandiri.
“Desa tidak hanya dipandang sebagai tempat pemeliharaan ternak secara tradisional, tetapi dapat dikembangkan sebagai lingkungan yang mampu menyediakan tenaga terampil dan layanan reproduksi ternak berbasis masyarakat,” tegas Yustiany.
Efektivitas keterampilan para peserta langsung diuji melalui pelayanan IB pada 20 ekor induk babi milik peternak setempat. Uji coba penerapan teknologi ini mencatatkan angka kebuntingan (conception rate) sebesar 75,00 persen, dengan 15 ekor induk babi terkonfirmasi bunting.
Capaian hasil awal ini terbukti sukses melampaui target indikator kinerja program yang ditetapkan sebelumnya sebesar 70,00 persen, sekaligus membuktikan kualitas dan presisi layanan tenaga inseminator lokal hasil binaan Undana.
Sebagai langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan program, tim pengabdi meresmikan pembentukan “Kelompok Layanan Inseminasi Buatan Pemuda Pukdale” sebagai wadah kelembagaan resmi peserta. Kelompok ini diproyeksikan menjadi embrio unit usaha jasa reproduksi ternak mandiri yang dikelola penuh oleh pemuda lokal.
Dukungan promosi yang terintegrasi dengan media digital diharapkan terus memperluas jaringan pelanggan kelompok tersebut, baik di wilayah Desa Pukdale maupun desa-desa di sekitarnya. Program PKM ini menjadi bukti nyata kontribusi Universitas Nusa Cendana dalam mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi, dan jiwa kewirausahaan yang selaras dengan potensi daerah.
Melalui kombinasi antara penguasaan teknologi IB, penguatan lembaga pemuda, dan tata kelola jasa reproduksi, Desa Pukdale kini bertransformasi membangun ekosistem usaha peternakan babi yang produktif, mandiri, serta berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. (ade)












