“Harun berharap teman-teman Harun di Pulau Flores selalu tabah dan sehat selalu. Harun sedih dengan bencana di Flores,” kata Harun
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Suasana di posko tanggap darurat bencana gempa bumi yang dibentuk Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur , pada Rabu (19/8) sore terlihat ramai dengan aktivitas bongkar muat berbagai bantuan yang akan didistribusikan untuk korban bencana gempa bumi di Pulau Flores.
Beragam bantuan itu dihimpun pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT dari berbagai pihak sebelum didistribusikan ke daerah terdampak bencana gempa bumi 7,7 SR di Pulau Flores, NTT.
Proses pendataan bantuan yang terus mengalir membuat suasana di Posko Tanggap Darurat terlihat ramai dengan adanya aktivitas bongkar muat barang yang dilakukan para relawan dan petugas BPBD NTT.
Dalam keramaian itu terlihat Harun (7) seorang anak siswa kelas 2 SD yang baru satu bulan hijrah ke Kota Kupang, setelah sebelumnya menetap di Papua bersama ayah dan ibunya .
Kehadiran Harun berada di Posko Tanggap Darurat ikut bersama sang ayah Pupung Purnama , Kepala Kantor BPJS Kesehatan Kupang untuk menyerahkan bantuan kemanusian bagi korban bencana gempa di Pulau Flores.
Harun semula hanya bisa menatap para relawan yang sibuk mengangkat berbagai jenis bantuan seperti mie,air mineral, miskuit keatas truk pengkut bantuan yang hendak menuju Pelabuhan Bolok.
Melihat aktivitas itu, hati Harun mulai tergerak untuk ikut membantu sesuai kemampunya dengan mengangkat dos miskuit keatas truk. Sekitar lima dos mie dan miskuit berhasil diangkat Harun keatas truk.
Sejumlah petugas BPBD NTT sempat melarang Harun untuk mengangkat dos biscuit namun beberapa kali dihalaunya, karena dirinya ingin membantu dan merasakan penderitaan anak-anak sebaya di daerah yang terdampak gempa bumi di Pulau Flores.
Ketika ditanya motivasi yang dilakukanya itu, Harun mengaku mengangkat bantuan itu sebagai wujud solidaritas dengan anak-anak yang terdampak bencana di Pulau Flores.
“Harun berharap teman-teman Harun di Pulau Flores selalu tabah dan sehat selalu. Harun sedih dengan bencana di Flores,” kata Harun sambil menunduk.
Harun mengaku sedih ketika melihat tayangan di berbagai TV tentang anak-anak terdampak bencana gempa berlarian menghindari reruntuhan bangunan akibat gempa.
“Harun sangat sedih melihat mereka berlarian,” kata Harun dengan nada sedih.
Aksi Harun yang menjadi “relawan Cilik” membuat kedua orang tuanya terharu karena anak yang baru berusia 7 tahun memiliki rasa empati yang luar biasa bagi korban bencana gempa di Pulau Flores.
“Memang selama bapanya bertugas di Papua di wilayah Raja Ampat kami selalu ajak Harun dalam kegiatan bakti sosial, mungkin rasa empati itu tumbuh dalam dirinya untuk bisa membantu seperti ini,” kata Ibu Pupung Purnama yang juga sempat mengangkat beberapa bahan bantuan ke atas truk.
Membantu seperti dilakukan Harun bukan sekadar mengisi waktu luang namun hal itu merupakan cara untuk memastikan orang-orang seusianya yang terdampak bencana di Pulau Flores tidak merasa sendirian.
Keterbatasan fisik dan usia, tangan kecil Harun membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal batas umur. Keikhlasannya menjadi pengingat di posko itu bahwa di runtuhan bencana sekalipun, harapan baru selalu bisa tumbuh lewat aksi nyata yang sederhana. (beny)




