“Persoalan yang kita hadapi bukan semata-mata keterbatasan lahan. Di Fatubena lahan masih tersedia, tetapi air menjadi faktor pembatas. Karena itu, kita perlu memperkenalkan teknologi budidaya yang mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut,” ujar Nixon.
KUPANG , MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui UPT Laboratorium Lahan Kering Kepulauan (LLKK) berkolaborasi dengan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Kupang dan Pemerintah Kota Kupang menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penerapan Urban Farming Berbasis Hidroponik di Kampung Fatubena Kelurahan Kolhua: Strategi Penguatan Ketahanan Pangan dan Pengembangan Ekonomi Hijau Masyarakat”, Senin, (5/10/2026)
Kegiatan pengabdian ini dipusatkan di kawasan Bumi Perkemahan Fatubena, Kelurahan Kolhua, Kota Kupang, dengan melibatkan anggota Pramuka dan warga setempat. Dipimpin oleh Nixon Rammang, S.Hut., M.Si., selaku ketua tim, program ini turut dihadiri Ketua Harian Kwarcab Pramuka Kota Kupang Dr. Deford Nasareno Lakapu, MM, CMT, serta menghadirkan praktisi hidroponik dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, I Komang Sudarma, S.P., M.P., sebagai narasumber teknis.
Penyelenggaraan PKM berbasis teknologi tepat guna ini semakin mempertegas peran UPT LLKK sebagai pusat pembelajaran dan hilirisasi riset terapan yang adaptif terhadap karakteristik wilayah lahan kering kepulauan. Edukasi urban farming hidroponik ini turut menghadirkan solusi konkret atas kendala keterbatasan air di lahan terjal/kering, memperkuat ketahanan pangan keluarga secara mandiri, serta membuka peluang usaha ekonomi hijau berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien.
Berbeda dengan konsep urban farming di perkotaan besar yang umumnya dipicu oleh keterbatasan lahan, penerapan hidroponik di Kampung Fatubena menjawab tantangan ketersediaan air. Walaupun luas lahan di kawasan tersebut terbilang memadai, pasokan air yang terbatas menjadi faktor pembatas utama dalam pengembangan budidaya pertanian konvensional.
Oleh karena itu, UPT LLKK Undana memperkenalkan teknologi hidroponik sebagai metode alternatif guna mengoptimalkan pengelolaan air dan asupan nutrisi tanaman secara lebih terukur.
“Persoalan yang kita hadapi bukan semata-mata keterbatasan lahan. Di Fatubena lahan masih tersedia, tetapi air menjadi faktor pembatas. Karena itu, kita perlu memperkenalkan teknologi budidaya yang mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut,” ujar Nixon.
Dalam rangkaian pelatihan tersebut, para peserta tidak hanya dibekali dengan pemahaman teori, melainkan diajak untuk mempraktikkan secara langsung seluruh tahapan budidaya tanaman. Narasumber teknis I Komang Sudarma memandu peserta mulai dari pemahaman prinsip dasar hidroponik, pengenalan media tanam, formulasi nutrisi, proses penyemaian benih, pemeliharaan, hingga manajemen panen.
Pendekatan praktik langsung ini sengaja diterapkan guna menjamin terjadinya peningkatan keterampilan teknis (skill) warga dan anggota Pramuka agar mampu mengembangkannya secara mandiri.
Keterlibatan anggota Pramuka dan masyarakat lokal ditempatkan sebagai pilar utama keberlanjutan program di lapangan. Tim pengabdian Undana menilai bahwa penerapan teknologi tidak akan memberikan dampak luas apabila hanya berhenti pada taraf sosialisasi tanpa mencetak agen perubahan (agent of change).
Melalui dukungan Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Kupang, kawasan Bumi Perkemahan Fatubena diarahkan untuk bertransformasi menjadi ruang edukasi lingkungan, pusat ketahanan pangan, dan wadah pelatihan keterampilan produktif bagi generasi muda.
Penerapan budidaya hidroponik di Fatubena dirancang untuk memberikan tiga manfaat simultan, yakni peningkatan keterampilann warga, pemenuhan gizi pangan keluarga, dan pembukaan peluang pendapatan tambahan. Hasil panen tanaman hidroponik selain dialokasikan untuk konsumsi rumah tangga, juga diproyeksikan untuk dipasarkan dalam skala yang lebih besar.
Pendekatan ini sekaligus menjadi pijakan awal dalam mengedukasi masyarakat mengenai konsep ekonomi hijau yang berfokus pada efisiensi sumber daya dan kelestarian lingkungan. Keberhasilan kegiatan di Kampung Fatubena menegaskan krusialnya kolaborasi lintas instansi dalam menjawab persoalan ril di masyarakat.
Undana berperan dalam ranah pengembangan keilmuan dan penerapan teknologi lahan kering, Pramuka menggerakkan potensi pemuda sebagai motor penggerak, sementara Pemkot Kupang memfasilitasi penguatan kebijakan pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan daerah. Sinergi tiga pilar ini diharapkan terus berlanjut menjadi program kemitraan yang konkrit dan berkesinambungan.
Ke depan, kawasan Bumi Perkemahan Fatubena diproyeksikan berkembang menjadi percontohan (demplot) urban farming berbasis hidroponik sebagai pusat pembelajaran publik dan anggota Pramuka. Pengembangan demplot ini akan dilakukan secara bertahap meliputi penambahan instalasi, pelatihan lanjutan, tata kelola produksi, pengemasan, pemasaran, hingga pembentukan kelembagaan kelompok usaha.
Melalui komitmen kolaboratif ini, Undana membuktikan bahwa keterbatasan air di wilayah lahan kering dapat diatasi melalui inovasi teknologi tepat guna demi mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. (ben)















