KUPANG,MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang resmi meluncurkan digitalisasi sistem pengakuan akademik dan percepatan kelulusan mahasiswa untuk periode Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.
Langkah strategis ini diawali melalui penyelenggaraan Penyamaan Persepsi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Tipe A (Perolehan SKS) serta Semester Pendek untuk periode Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 yang berlangsung selama dua hari, 7–8 Juli 2026.
Aparatur rektorat mengintegrasikan kurikulum ini ke dalam ekosistem digital dengan menggandeng pakar teknologi dari PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA).
Perusahaan pengembang Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) nasional tersebut menerjunkan dua narasumber utama, yakni Argadinata Febriano dan Dhea Ananda, untuk memberikan pendampingan teknis langsung kepada para dekan, ketua program studi, operator akademik, serta asesor pelaksana di lingkungan Undana.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa implementasi RPL dan Semester Pendek merupakan pilar utama dalam cetak biru (blueprint) transformasi tata kelola akademik Undana hingga tahun 2029.
Menurutu dia jalur RPL Tipe A dirancang khusus untuk memfasilitasi masyarakat, praktisi, dan pekerja profesional di NTT yang kaya akan pengalaman lapangan namun belum memiliki gelar akademik, agar kompetensi nonformalnya dapat dikonversi langsung menjadi Satuan Kredit Semester (SKS) resmi secara sah dan efisien.
“Kegiatan ini menjadi komitmen Undana untuk menghadirkan layanan akademik yang lebih luas. Melalui skema RPL, pengalaman kerja di luar pendidikan formal dapat direkognisi menjadi SKS sehingga masyarakat bisa kuliah dengan masa studi yang jauh lebih efisien,” kata Prof. Jefri Bale.
Sementara untuk internal kata dia semester pendek merupakan jalan keluar taktis bagi mahasiswa untuk menuntaskan mata kuliah yang tertinggal tanpa harus menunggu semester reguler berikutnya.
Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., menambahkan bahwa tren minat masyarakat terhadap jalur inklusif ini terus melonjak tajam. Prof. Annytha menjamin bahwa seluruh proses asesmen—mulai dari penilaian dokumen portofolio, verifikasi sertifikat kompetensi, rekam jejak kerja, hingga wawancara—akan dilakukan secara ketat dan objektif melalui sistem digital SEVIMA.
Standardisasi ini diterapkan agar hasil konversi SKS tetap patuh pada pemenuhan mutu lulusan nasional dan terhindar dari praktik jual-beli gelar.
Penerapan sistem RPL Tipe A dan Semester Pendek berbasis digital di Undana ini membawa dampak perubahan struktural dan ekonomi yang sangat masif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur.
Selama ini, ribuan aparatur desa, aktivis LSM, jurnalis, hingga pelaku industri kreatif di NTT terjebak dalam kondisi “stagnasi karier”.
Mereka memiliki keahlian praktis yang mumpuni di lapangan, namun posisi tawar dan kesejahteraan ekonominya tersandera karena tidak memiliki ijazah sarjana. Di sisi lain, mereka enggan menempuh kuliah reguler karena dihantui oleh aturan birokrasi kampus yang kaku, mahal, dan memakan waktu hingga empat tahun penuh.
Ketimpangan ini diperparah oleh menumpuknya jumlah “mahasiswa abadi” di internal Undana yang terancam putus studi (drop out) hanya karena terjegal satu atau dua mata kuliah prasyarat yang tidak lulus Melalui integrasi sistem RPL dan Semester Pendek digital ini, Undana sukses meruntuhkan tembok pembatas administratif tersebut.
Dampak jangka panjangnya, para pekerja profesional di NTT kini dapat memangkas waktu kuliah mereka hingga separuh waktu reguler secara legal karena pengalaman bertahun-tahun mereka langsung diakui sebagai SKS matang.
Untuk internal semester Pendek akan menguras habis tumpukan kelulusan yang tertunda, menurunkan angka mahasiswa drop out, dan secara instan mendongkrak skor Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas di tingkat kementerian.
Langkah taktis ini menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Prof. Jefri Bale, Undana berhasil bertransformasi dari sekadar institusi penguji hafalan teori menjadi lembaga inklusif yang memanusiakan keahlian praktis angkatan kerja di kawasan Indonesia Timur. (ben)





