Undana Perkuat Kejujuran Ilmiah Di Tengah Gempuran Kecerdasan Buatan

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Pelatihan Integritas Akademik Kode Etik dan Pencegahan Plagiarisme di Aula FEB Undana, Kamis (6/8/2026).
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Pelatihan Integritas Akademik Kode Etik dan Pencegahan Plagiarisme di Aula FEB Undana, Kamis (6/8/2026).

“Dalam dunia akademik salah itu boleh, tetapi berbohong itu tidak boleh. Kita tidak bisa membendung lagi penggunaan AI, tetapi kita juga harus tetap menjaga integritas akademik kita,”  tegas Dr. Rolland.

KUPANG,MEDIASINTT.COM – Guna menjaga kejujuran ilmiah di tengah gempuran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana) menggelar Pelatihan Integritas Akademik Kode Etik dan Pencegahan Plagiarisme di Aula FEB Undana, Kamis (6/8/2026).

Mengusung tema “Building an Academic Culture of Honesty, Integrity, and Quality”, kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa ini menghadirkan mantan Korpus Etik, Pelatihan, dan Monev, Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M), Undana, Dr. Yeheskial A. Roen, S.Si., M.Si., sebagai narasumber utama.

Bacaan Lainnya

Pelatihan dibuka oleh Dekan FEB Undana, Dr. Rolland E. Fanggidae, S.Si., M.M. Dalam sambutannya, ia menyoroti pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang kini semakin akrab dengan kehidupan akademik.

Menurutnya, kemajuan teknologi perlu disikapi secara bijak karena kemudahan yang ditawarkan tidak boleh menggeser nilai utama dalam dunia ilmiah, yaitu kejujuran.

“Dalam dunia akademik salah itu boleh, tetapi berbohong itu tidak boleh. Kita tidak bisa membendung lagi penggunaan AI, tetapi kita juga harus tetap menjaga integritas akademik kita,”  tegas Dr. Rolland.

Sementara itu, Dr. Yeheskial A. Roen, S.Si., M.Si, mengawali pemaparannya dengan mengajak peserta melihat perubahan yang terjadi dalam praktik akademik saat ini.

Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) ini menilai bahwa perkembangan teknologi telah menggeser tantangan yang dihadapi civitas akademika. Bukan hanya soal menghindari plagiarisme, tetapi juga bagaimana menjaga kejujuran dan kebenaran ilmiah dalam setiap proses akademik.

“Kalau dulu, fokus kita hanya sebatas tidak mencuri karya orang lain, sekarang paradigmanya bergeser pada komitmen untuk tidak merusak kebenaran ilmiah. Ukuran utamanya bukan lagi sekadar sanksi, melainkan apakah karya tersebut dihasilkan secara jujur dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.

Guna memperkuat pemahaman peserta, ia kemudian mengulas secara komprehensif payung hukum serta regulasi yang berlaku di lingkungan perguruan tinggi.

Dr. Yeheskial memaparkan bahwa Undana sebenarnya telah memiliki kerangka aturan, seperti Kode Etik Dosen (Peraturan Rektor No. 3,4,5 A/2013), hingga penanganan plagiarisme (Peraturan Rektor No. 4/2019). Kendati demikian, hadirnya AI menuntut penyempurnaan regulasi agar mampu merespons perkembangan global secara lebih adaptif.

Seiring dengan dinamika tersebut, pemaparan berlanjut pada identifikasi rincian pelanggaran etik akademik. Dr. Yeheskial menguraikan tujuh jenis pelanggaran utama, mulai dari fabrikasi data, falsifikasi, plagiarisme, kepengarangan tidak sah , konflik kepentingan, pengajuan ganda, hingga penggunaan AI tanpa deklarasi, serta turut membeberkan tata cara pengaduan resmi, mekanisme mitigasi risiko, hingga klasifikasi sanksi dari kategori ringan, sedang, hingga berat.

Terdapat pula sesi diskusi interaktif di mana para dosen dan mahasiswa FEB Undana aktif mengajukan pertanyaan serta berdiskusi mengenai penerapan etika penggunaan AI dan cara menyusun karya ilmiah yang tetap menjunjung integritas akademik.

Menutup penyampaian materinya, Dr. Yeheskial kembali mengingatkan seluruh peserta baik dosen maupun mahasiswa bahwa seluruh instrumen aturan dan sanksi tersebut pada hakikatnya bermuara pada pembentukan karakter civitas akademika.

“Ini bukan sekadar soal sanksi. Sanksi itu ada, tetapi yang paling penting di dalam dunia akademik adalah bagaimana kita mau membangun budaya akademik yang berintegritas,” kata Dr. Yeheskial. (Sel)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *