“Melalui diskusi bersama tim psikolog Undana, kami menemukan bahwa faktor pengawasan orang tua menjadi kunci utama. Oleh karena itu, kami memilih materi pengasuhan digital agar Bapak dan Ibu bisa mempraktikkan langsung penggunaan aplikasi Google Family Link untuk mendampingi anak secara bijak,” ujar Christiani.
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Program Studi Psikologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (FKM Undana) berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pandai Digital: Penguatan Pengasuhan Anak di Era Digital melalui Aplikasi Google Family Link”.
Agenda ini dilaksanakan di Gedung Kebaktian GMIT Genesaret Danau Ina, Lasiana, Kupang, pada Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memitigasi risiko ketergantungan gawai (gadget), penurunan kepekaan sosial, hingga masalah kesehatan mental pada anak akibat adaptasi teknologi yang masif. Melalui pelatihan pengasuhan digital (digital parenting) dan pemanfaatan fitur pengaman berbasis teknologi, para orang tua dibekali keterampilan praktis untuk memantau, membatasi, dan mengarahkan penggunaan gawai secara bijak tanpa memicu benturan hubungan dalam keluarga.
Dalam laporannya, Ketua PkM Undana, Christiani Natasya Miru, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa kecepatan anak-anak dalam mengadaptasi teknologi kerap melampaui kemampuan orang tua. Kondisi tersebut berpotensi memicu adiksi digital yang memengaruhi prestasi akademik dan interaksi sosial anak.
“Melalui diskusi bersama tim psikolog Undana, kami menemukan bahwa faktor pengawasan orang tua menjadi kunci utama. Oleh karena itu, kami memilih materi pengasuhan digital agar Bapak dan Ibu bisa mempraktikkan langsung penggunaan aplikasi Google Family Link untuk mendampingi anak secara bijak,” ujar Christiani.
Dukungan terhadap inisiatif ini disampaikan oleh perwakilan Dinas Kominfo Provinsi NTT, Sony Josefina Djahamouw, S.E. Ia menyoroti bahwa perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), internet, dan jaringan seluler membawa dampak ganda yang memerlukan kecermatan orang tua.
Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Provinsi NTT, Sony Josefina Djahamouw, S.E.
Sementara itu, Ketua Klasis Kota Kupang Timur, Pdt. Ishak B. Batuado, S.Th., memberikan apresiasi atas kehadiran akademisi Undana. Menurutnya, kegiatan ini sangat relevan dalam membekali jemaat—khususnya kaum ibu yang memegang peranan vital dalam literasi digital keluarga—agar lebih siap menghadapi tantangan era modern.
Sesi inti penyampaian materi dibawakan oleh Bernadetha Putri, S.Psi., M.Psi., yang memaparkan konsep digital parenting. Ia mengibaratkan mengasuh anak di era digital seperti “mengajarkan anak menyeberang jalan”, di mana fungsi utama orang tua adalah membimbing, bukan sekadar melarang.
Merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan peningkatan signifikan akses internet dan telepon seluler pada anak usia dini hingga usia sekolah, pelatihan ini menekankan penerapan disiplin positif tanpa kekerasan. Kunci adaptasi pola asuh yang diadaptasi dari WHO meliputi:
Melalui aplikasi Google Family Link, peserta dilatih secara teknis untuk mengontrol waktu layar (screen time), menyaring konten yang aman, serta memantau maupun memblokir aplikasi yang tidak sesuai bagi tumbuh kembang anak.
Pelatihan ini mendapat respons positif dari para orang tua dan jemaat se-Klasis Kota Kupang Timur yang hadir. Salah seorang peserta asal Jemaat Lanud El Tari Penfui, Yung Hartati Dangga, mengaku sangat terbantu dalam mengatasi kendala pengasuhan gawai di rumah.
“Tantangan terbesar kami di rumah adalah ketika anak-anak sudah asyik bermain gim daring bersama teman-temannya hingga menunda waktu belajar. Namun, dengan aplikasi Google Family Link yang diajarkan hari ini, kami merasa sangat terbantu untuk mengontrol dan menyaring aplikasi yang tidak diperlukan demi menunjang masa depan serta akademik anak-anak di sekolah,” ungkap Yung.
Menutup rangkaian kegiatan PkM, Christiani Natasya Miru menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas keterbukaan dan partisipasi aktif jemaat yang terlibat selama sesi diskusi maupun praktik.
Ia berharap pengetahuan dan keterampilan pengasuhan digital yang telah diperoleh tidak berhenti di lokasi pelatihan, melainkan dapat terus disebarluaskan oleh para peserta kepada sesama orang tua di lingkungan masing-masing demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan bijak bernavigasi di era teknologi. (ben)












