Mahasiswa FST Undana Pamerkan Hasil Tenun Ikat Tradisional

– Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Pembuatan Tenun Ikat (PTI) Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) tampil dalam pameran Produk Inovasi Warisan Nusantara (Wastra) NTT bertema “Jalinan Nusa” di Gedung Prodi PTI, Kupang, pada Kamis (18/6/2026).
– Mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Pembuatan Tenun Ikat (PTI) Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) tampil dalam pameran Produk Inovasi Warisan Nusantara (Wastra) NTT bertema “Jalinan Nusa” di Gedung Prodi PTI, Kupang, pada Kamis (18/6/2026). Foto/HO-Humas Undana

“Ketika mempelajari tenun, kita juga membedah filosofi, aspek geometri, ergonomi keselamatan kerja, matematika, pengemasan produk, manajemen rantai pasok, tren pasar global, hingga sosiologi pariwisata,” kata Prof. Dr. Philiphi de Rozari,

MEDIASINTT.COM –   Program Studi (Prodi) Teknik Pembuatan Tenun Ikat (PTI) Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) mentransformasikan mahakarya kain tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi.

Hasil karya tangan para mahasiwa ini ditampilkan  pameran Produk Inovasi Warisan Nusantara (Wastra) NTT bertema “Jalinan Nusa” di Gedung Prodi PTI, Kupang, pada Kamis (18/6/2026).

Bacaan Lainnya

Dekan FST Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa Prodi PTI Undana merupakan satu-satunya program studi di Indonesia yang memiliki karakteristik unik karena berfokus pada pelestarian kain tenun lokal secara saintifik.

Menurut Prof  Philiphi , mempelajari tenun di era modern tidak boleh lagi sekadar dilihat dari aspek seni atau keterampilan tangan tradisional.

“Ketika mempelajari tenun, kita juga membedah filosofi, aspek geometri, ergonomi keselamatan kerja, matematika, pengemasan produk, manajemen rantai pasok, tren pasar global, hingga sosiologi pariwisata,” papar Guru Besar Kepakaran Kimia Lingkungan tersebut saat membuka acara.

Guna memperluas daya jangkau budaya NTT ke kancah global, Prof. Philip menggagas pembukaan program Summer School Tenun Ikat yang menyasar peserta luar daerah dan mancanegara.

Melalui program ini, dunia internasional akan diajak menetap dan mempelajari langsung seluruh tahapan produksi otentik, mulai dari pemilihan benang, teknik pewarnaan alami berbasis tumbuhan, hingga menghasilkan selembar kain tenun utuh.

Koordinator Prodi PTI Undana, Ariency Kale Ada Manu, S.T., M.T., menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hilirisasi praktis dari integrasi berbagai mata kuliah, seperti Busana dan Gaya, Desain Produk, Desain Digital, hingga Manajemen Pameran Produk.

Meskipun prodi ini terhitung baru dan berjalan di tengah keterbatasan fasilitas, Ariency memastikan mahasiswa PTI tetap mampu menembus persaingan luar kampus. Salah satu bukti nyatanya adalah keberhasilan delegasi mahasiswa PTI meraih Juara II dalam ajang lomba fashion show yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia baru-baru ini. Pihaknya terus mendorong intervensi universitas dan fakultas agar prodi unik ini semakin dikenal di level nasional dan global.

Ketua Panitia Pameran, Sariwati Nulima, menambahkan bahwa perhelatan ini bukan sekadar agenda seremonial untuk memenuhi nilai akademik mahasiswa. Kegiatan ini membawa misi jangka panjang sebagai gerakan berkelanjutan untuk mematangkan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis budaya di Indonesia Timur.

Sariwati merinci ada tiga pilar utama yang didorong dalam gerakan ini, yakni melestarikan motif asli, mendigitalisasi pola dan pemasaran, serta mempromosikan produk turunan tenun agar memiliki daya saing dan nilai jual tinggi di pasar modern.

Pameran inovasi yang diinisiasi oleh Prodi PTI Undana ini membawa dampak perubahan yang sangat krusial bagi masa depan industri kreatif NTT. Selama ini, tenun ikat sering kali dianggap sebagai produk kuno yang mahal, kaku, dan hanya digunakan oleh generasi tua untuk acara adat. Persepsi tersebut berisiko mematikan regenerasi penenun di tingkat hulu.

Melalui pendekatan sains, desain digital, dan manajemen industri yang diajarkan Undana, mahakarya tenun berhasil diramu menjadi produk mode kasual modern, aksesori kontemporer, dan komoditas industri kreatif yang diminati pasar internasional.

Langkah jemput bola lewat jalur akademik ini menjadi kunci penting kampus tidak hanya menyelamatkan 22 rumpun motif wastra NTT dari kepunahan budaya, tetapi sekaligus mencetak wirausahawan muda (technopreneur) yang mampu menggerakkan roda ekonomi daerah secara mandiri tanpa kehilangan identitas kulturalnya.

Ajang kreativitas tersebut menampilkan puluhan karya inovatif mahasiswa yang memadukan teknik tenun ikat, tenun buna, dan tenun sotis khas dari 22 kabupaten/kota di Provinsi NTT.

Selain memamerkan hasil kain, pameran ini dimeriahkan dengan demonstrasi menenun langsung di tempat, peragaan busana (fashion show), serta pertunjukan monolog mahasiswa untuk memikat kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur. (ben)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *