“Baik juga BP3MI menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, karena kita memang perlu menggunakan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” tegas Rektor Undana.
KUPANG,MEDIASINTTCOM – Universitas Nusa Cendana (Undana) bersama Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) menginisiasi kerja sama strategis untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) agar lebih kompeten dan siap menembus pasar kerja internasional.
Penjajakan kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan resmi yang berlangsung di ruang rapat Rektor Undana, Kupang, pada Senin (31/8/2026).
Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., didampingi Wakil Rektor IV Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., dan Direktur Pascasarjana Dr. Hamza Wulakada, M.Si., menerima langsung kunjungan rombongan BP3MI yang dipimpin oleh Ketua BP3MI Suratmi Hamida, S.Sos., bersama Losiana Matilda Sir, Yulia Rachmawati, dan Riany Karim.
Pertemuan ini difokuskan pada penyusunan ekosistem pekerja migran berbasis profesionalitas yang menghubungkan potensi akademis perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja global.
Dalam pertemuan tersebut, Rektor Undana menegaskan peran strategis perguruan tinggi untuk mengarahkan kurikulum serta kompetensi lulusan agar relevan dengan dinamika kebutuhan luar negeri.
Undana siap memfasilitasi kebutuhan tenaga ahli, tenaga terampil, laboratorium, hingga sektor kesehatan. Penyelenggaraan pelatihan nantinya dirancang spesifik sesuai standar negara tujuan, mencakup penguatan keterampilan teknis, sertifikasi kompetensi, serta penguasaan bahasa asing seperti Jepang dan Jerman.
Peluang nyata ini mencakup program pelatihan bahasa Jerman secara gratis selama enam bulan bagi 70 orang asal NTT pada tahun ini, di samping pemenuhan tenaga kerja sektor kesehatan dan perawat di Jepang, Malaysia, serta Singapura.
Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., (Kiri) dan Ketua BP3MI Suratmi Hamida, S.Sos., (Kanan)
Kerja sama Undana dan BP3MI turut menyoroti pentingnya mengubah paradigma pekerja migran dari sekadar isu negatif menjadi potensi SDM unggul melalui pendekatan hulu ke hilir yang terintegrasi.
Rangkaian proses ini meliputi pemetaan pasar kerja, pendidikan, peningkatan keterampilan, sertifikasi, pemeriksaan kesehatan, hingga penempatan legal dan terlindungi. Undana membuka pemanfaatan fasilitas kampus, seperti penyusunan modul, peningkatan instruktur, hingga penggunaan asrama universitas sebagai akomodasi terpadu bagi peserta pelatihan dari berbagai daerah di NTT.
Selain sarana pelatihan, gagasan kolaborasi juga menyasar integrasi fasilitas kesehatan kampus. Rumah Sakit Undana diproyeksikan dapat mengambil bagian dalam skema pelayanan kesehatan pekerja migran, khususnya untuk penyelenggaraan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) pra-keberangkatan.
Inisiatif ini diambil guna mengikis kecenderungan lulusan NTT yang selama ini berfokus mencari peluang kerja di kawasan Bali dan Jawa. Melalui kesiapan kompetensi dan skema pembiayaan kolaboratif bersama lembaga pemerintah, tenaga kerja asal NTT diarahkan untuk mampu bersaing di pasar kerja global secara aman dan kompetitif.
“Baik juga BP3MI menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, karena kita memang perlu menggunakan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” tegas Rektor Undana.
Kemitraan antara Undana dan BP3MI ini memangkas risiko kerentanan tenaga kerja asal NTT yang selama ini kerap terserap di pasar kerja informal tanpa perlindungan dan kualifikasi yang memadai.
Melalui standardisasi kompetensi akademis, penyediaan fasilitas medical check-up mandiri, serta penguasaan bahasa asing sejak dari bangku perguruan tinggi, Undana secara aktif menggeser pola migrasi kerja tradisional menuju penempatan tenaga terampil profesional. Langkah sistematis dari hulu ke hilir ini memastikan SDM NTT mampu bersaing secara legal, memiliki daya tawar tinggi di tingkat global, serta terlindungi secara utuh di negara tujuan penempatan. (ben)





