Undana Mobilisasi Tim Relawan Kesehatan Ke Daerah Terdampak Gempa Bumi Flores

Tim Emergency Medical Team dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (TBM FKKH Undana) untuk melayani ratusan pengungsi dan warga terdampak gempa bumi Flores di Kabupaten Nagekeo.
Tim Emergency Medical Team dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (TBM FKKH Undana) untuk melayani ratusan pengungsi dan warga terdampak gempa bumi Flores di Kabupaten Nagekeo.

“Tiba di lokasi, kami langsung screening mencari pasien kritis. Karena stok awal sempat menipis akibat tingginya kebutuhan, tambahan logistik obat yang tiba pada 24 Agustus sangat menyokong pelayanan berkelanjutan,” ujar Ketua Tim EMT Undana, dr. Deif Tunggal

KUPANG, MEDIASINTT.COM  – Universitas Nusa Cendana memobilisasi  Tim Emergency Medical Team dari Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana (TBM FKKH Undana) untuk melayani ratusan pengungsi dan warga terdampak gempa bumi Flores di Kabupaten Nagekeo.

Bacaan Lainnya

Operasi tanggap darurat yang berlangsung sejak 23 Agustus hingga saat ini  mencakup pembukaan posko medis mandiri, penanganan penapisan (screening) pasien kritis, hingga aksi penyisiran (field visit) ke wilayah terpencil.

Rangkaian aksi kemanusiaan diawali pembekalan intensif First Aid dan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada 19 dan 21 Agustus 2026, persiapan logistik obat-obatan bersama Dekan FKKH Undana, Satgas Undana dan PERKI NTT, hingga pemberian materi kebencanaan dari HAND International oleh Mr. Inban Caldwell. Saat keberangkatan via kapal laut pada 22 Agustus, tim juga menerima pembekalan Psychological First Aid (PFA) dari Ketua IPKJI NTT, Ns. Imakulata Bete, S.Kep., guna menjaga mentalitas relawan di lapangan.

Setelah mendarat di Pelabuhan Ende pada 23 Agustus 2026, tim medis langsung bergerak menuju lokasi bencana untuk berkoordinasi secara ketat dengan Bupati Nagekeo serta Dinas Kesehatan setempat.

Langkah awal di lapangan dimulai dengan penapisan pasien di Posko Nagekeo, di mana tim menemukan sejumlah pengungsi dalam kondisi sesak napas dan lemas yang kemudian langsung dimediasi penanganannya bersama pihak dinas.

Merespons kondisi pos kesehatan terdekat yang telah tutup pada sore hari, TBM Undana mendirikan posko malam berfasilitas penunjang dari BNI Berbagi yang beroperasi hingga pukul 22.30 WITA. Posko ini tidak hanya menyasar warga pengungsian, tetapi juga melayani petugas BNPB daerah yang mengalami demam dan kelelahan akibat intensitas penanganan bencana.

Selain mengoperasikan posko utama, tim bergerak aktif melakukan layanan field visit ke area pemukiman dan titik penampungan warga. Pada 23 Agustus 2026, tim menangani 40 pasien rawat jalan di Desa Marapokot yang terdiri dari 19 laki-laki dan 21 perempuan, mencakup kategori usia 5 anak-anak, 31 dewasa, serta 4 lansia.

Penyisiran dilanjutkan keesokan harinya untuk memberikan penanganan medis langsung di Desa Rendu Teno sebanyak 14 pasien, Desa Wajomara sebanyak 61 pasien, Desa Lengadawa sebanyak 1 pasien, serta Pos Lapangan Berdikari Danga sebanyak 14 pasien.

Berdasarkan rekapitulasi data medis di lapangan, penyakit yang paling dominan ditangani oleh tim meliputi ISPA sebanyak 17 pasien, gangguan pencernaan atau GI track sebanyak 11 pasien, nyeri otot sebanyak 10 pasien, headache serta Low Back Pain masing-masing 5 pasien, hipertensi dan general weakness masing-masing 4 pasien, luka infeksi atau vulnus serta alergi masing-masing 2 pasien, hingga kasus infeksi kulit, gigi, dan ISK. Dalam aksi penjangkauan tersebut, tim juga mengidentifikasi kendala lingkungan yang dihadapi warga Desa Wajomara yang tengah mengalami krisis air bersih.

Stok obat-obatan yang sempat menipis akibat tingginya kebutuhan pasien berhasil teratasi setelah pasokan logistik tambahan tiba di Nagekeo pada 24 Agustus 2026. Selanjutnya, pada 25 Agustus, tim medis melangsungkan peninjauan langsung ke RSUD Aeramo bersama perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia Cabang Nusa Tenggara Timur (PERDATIN NTT).

Keberhasilan penanganan kesehatan di lapangan ini ditopang oleh komposisi personel multidisiplin yang dipimpin oleh dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI dari FKKH Undana. Tim ini diperkuat oleh para dokter alumni FKKH Undana seperti dr. Joseph Alessandro Putra Lamanepa dan dr. Andrie Suryanta, perwakilan IDI serta Polri yakni dr. Melissa Putri M. Napitupulu, M.K.M. dan dr. Josef Satrida Y. Maan, lima mahasiswa FKKH Undana yaitu Agnes Noni Samara, Maria Manuelita Febriyanti Toda, Marlena Gracella F. V. Nura Lele, Maria Natasya Thoma, dan Monica Lerrick, serta dua perawat dari Kementerian Hukum, Rosydah Idris, S.Kep. dan Ns. Valendro Rohi Riwu, S.Kep.

“Tiba di lokasi, kami langsung screening mencari pasien kritis. Karena stok awal sempat menipis akibat tingginya kebutuhan, tambahan logistik obat yang tiba pada 24 Agustus sangat menyokong pelayanan berkelanjutan,” ujar Ketua Tim EMT Undana, dr. Deif Tunggal, Sp.An-TI.

Sebagai langkah berkesinambungan, Tim EMT Undana menjadwalkan aksi penjangkauan medis lanjutan ke Desa Wajomara, Rendu Teno, dan Wajomae. Berkolaborasi dengan tim Lembaga Ibu dan Anak yang diwakili Edy dan Eka, sebanyak 13 personel diterjunkan untuk menyisir kawasan pemukiman yang masing-masing dihuni oleh sekitar 140 jiwa tersebut.

Memutus Rantai Keterbatasan Layanan Kesehatan Malam dan Penyakit Menular Pengungsian

Pascabencana gempa bumi, pengungsi mandiri di desa terpencil serta petugas lapangan sering kali tidak tertangani akibat tutupnya fasilitas kesehatan lokal pada sore hari dan terbatasnya pasokan obat-obatan. Ketiadaan penanganan medis darurat berisiko memicu komplikasi luka trauma gempa serta penyebaran infeksi saluran pernapasan dan pencernaan di lokasi bencana.

Pola keterbatasan jam operasional medis dan kekosongan pasokan obat pascabencana berpotensi memperburuk derajat kesehatan masyarakat terdampak. Melalui pendirian posko malam mandiri, penambahan logistik obat, serta aksi field visit langsung ke Desa Wajomara hingga Marapokot, hambatan ketersediaan layanan kesehatan darurat berhasil diatasi. Ratusan warga pengungsian, termasuk kelompok rentan anak-anak dan lansia serta petugas penanggulangan bencana mendapatkan perawatan medis dan pencegahan penyakit menular secara tepat waktu dari TBM Undana. (sel)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *