Empat Universitas Meluncurkan Teknologi Filtrasi Air Bersih Di TTS

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi tinggi atas kedatangan tim PKM lintas universitas besar tersebut saat menerima mereka di Gedung Rektorat Undana pada Selasa (14/7/2026).
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi tinggi atas kedatangan tim PKM lintas universitas besar tersebut saat menerima mereka di Gedung Rektorat Undana pada Selasa (14/7/2026).

“Walaupun hasil pengujian setelah instalasi akhir masih menunggu proses evaluasi lanjutan, kami tetap menganjurkan masyarakat untuk memasak air hasil filtrasi tersebut terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,” jelas Prof. Muhammad Ali Zulfikar .

KUPANG,MEDIASINTT.COM –  Empat Universitas ternama di Indonesia meluncurkan teknologi filtrasi air bersih dan program peningkatan kesehatan hewan di Desa Fatukoko, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) , Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Universitas Nusa Cendana (Undana) berkolaborasi dengan tiga perguruan tinggi terkemuka nasional, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad), untuk menghadirkan solusi pemenuhan hak dasar di pedalaman., Rabu (13/7).

Bacaan Lainnya

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) Tahun 2026 yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), empat kampus ini meluncurkan teknologi filtrasi air bersih dan program peningkatan kesehatan hewan di Desa Fatukoko, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Aksi kolaboratif multidisiplin berskala nasional ini membagi fokus penanganan ke dalam dua sektor vital. Tim ITB dan Unpad yang berkolaborasi dengan Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Undana turun tangan mengimplementasikan instalasi teknologi filtrasi air bersih berbasis material adsorben.

Sementara itu, tim UGM bersama Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana serta Dinas Peternakan Kabupaten TTS bergerak melakukan penyuluhan, pemeriksaan medis, serta pencegahan penyakit ternak milik warga.

Ketua Tim PMKI, Prof. Dr. Muhammad Ali Zulfikar dari ITB, membeberkan bahwa Desa Fatukoko sengaja dibidik karena wilayah tersebut masih didera keterbatasan akses air bersih yang parah, terutama saat memasuki musim kemarau. Selama ini, sebagian besar masyarakat terpaksa mengonsumsi dan memanfaatkan air sungai secara langsung tanpa diolah untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Guna memastikan keamanan konsumsi, sampel air sungai di lokasi tersebut telah melalui uji coba dan analisis laboratorium secara ketat sebelum teknologi filtrasi diimplementasikan kepada masyarakat.

Dalam agenda yang diikuti oleh 25 warga, perwakilan desa, tokoh masyarakat, serta Camat Mollo Barat ini, tim gabungan tidak sekadar memaparkan teori, melainkan merakit, memasang, dan mempraktikkan pengoperasian alat secara langsung bersama warga.

“Dari hasil demonstrasi, terlihat perbedaan kualitas fisik yang cukup jelas antara air sebelum dan sesudah melewati proses filtrasi sederhana ini. Walaupun hasil pengujian setelah instalasi akhir masih menunggu proses evaluasi lanjutan, kami tetap menganjurkan masyarakat untuk memasak air hasil filtrasi tersebut terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,” jelas Prof. Muhammad Ali Zulfikar .

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menyampaikan apresiasi tinggi atas kedatangan tim PKM lintas universitas besar tersebut saat menerima mereka di Gedung Rektorat Undana pada Selasa (14/7/2026).

Ia menekankan bahwa efektivitas inovasi teknologi modern di NTT wajib dikawinkan dengan pemahaman karakteristik sosial budaya masyarakat lokal.

Masyarakat NTT pada dasarnya berada di wilayah lahan kering kepulauan yang secara alami telah membentuk pola hidup (livelihood) unik dalam menghadapi kemarau panjang, salah satunya tercermin pada arsitektur rumah adat yang berfungsi ganda sebagai lumbung pangan.

Sejalan dengan hal itu, Prof. Aliya Nur Hasanah dari Unpad menambahkan bahwa kemitraan strategis ini diproyeksikan tidak berhenti sebagai program satu hari saja, melainkan akan terus dikembangkan untuk mengadopsi Desa Fatukoko sebagai desa binaan jangka panjang.

Penerapan teknologi filtrasi air adsorben dan intervensi medis veteriner oleh konsorsium empat perguruan tinggi di Desa Fatukoko ini membawa dampak kesehatan dan ekonomi yang sangat krusial bagi masyarakat Mollo Barat.

Selama bertahun-tahun, ketergantungan warga terhadap air sungai mentah saat musim kemarau telah memicu tingginya kasus penyakit bawaan air (water-borne diseases) seperti diare kronis dan infeksi saluran pencernaan yang rawan menyerang anak-anak.

Di sisi lain, minimnya akses layanan kesehatan hewan membuat peternak lokal kerap mengalami kerugian ekonomi akibat kematian massal ternak yang tidak termitigasi, padahal hewan ternak merupakan aset tabungan utama keluarga di wilayah lahan kering. Tanpa adanya alih teknologi yang bersifat aplikatif, masyarakat pedalaman akan terus terjebak dalam masalah sanitasi buruk dan kerentanan ekonomi yang konstan.

Melalui pendekatan berbasis keterampilan langsung di lapangan, pola kerentanan tersebut kini diputus secara mandiri oleh masyarakat. Dampak jangka panjangnya, pasokan air sungai yang kini tersaring melalui material adsorben memberikan jaminan akses sanitasi yang jauh lebih aman bagi kebutuhan domestik, sehingga tingkat prevalensi penyakit akibat air tercemar dapat ditekan secara drastis.

Di sektor pemulihan ekonomi, keterampilan praktis dalam mitigasi penyakit ternak yang diajarkan oleh tim dokter hewan gabungan akan mendongkrak produktivitas sektor peternakan masyarakat Fatukoko. Langkah konkret ini terbukti tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan di atas kertas, melainkan berhasil membangun kemandirian warga desa untuk mengoperasikan teknologi sanitasi secara berkelanjutan, sekaligus menegaskan peran nyata perguruan tinggi sebagai motor penggerak kesejahteraan di wilayah tertinggal NTT. (ben)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *