“Hal pertama yang wajib dimiliki mahasiswa adalah etika dan norma kesopanan. Kita harus melebur dan menyesuaikan diri dengan budaya di NTT. Jangan sampai aktivitas kita menyalahi adat istiadat di desa dan menyinggung perasaan masyarakat lokal,” ungkap Tabita.
KUPANG, MEDIASINTT.COM – Sebanyak 1,515 mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang melakukan misi pengabdian masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tengara Timur.
Upacara pelepasan ribuan mahasiswa ini dipimpin langsung Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha Ina Rohi Detha, M.Si., di halaman Klinik Pratama Undana, Kupang, pada Rabu (24/6/2026).
Ribuan mahasiswa ini mengabdi selama dua bulan penuh mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026. Guna menjawab peran Tri Dharma Perguruan Tinggi secara efektif, para peserta akan disebar ke tujuh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui lima skema KKN tematik yang dirancang khusus untuk mengentaskan berbagai persoalan rill di tengah masyarakat.
Wakil Rektor I, Prof. Annytha Detha, mengingatkan agar mahasiswa berpegang teguh pada pembekalan komprehensif yang telah diberikan oleh para pakar.
Ia menekankan bahwa materi pembekalan tersebut merupakan modal utama agar mahasiswa mampu mengeksekusi program kerja di lapangan secara terukur demi mewujudkan visi besar “Undana Berdampak”.
“Selamat menjalankan KKN. Saya senang berada di tengah generasi hebat masa depan NTT yang ingin menunaikan visi pengabdian. Ingat semua pesan yang diberikan para narasumber dan pegang bekal akademis itu dengan baik selama berada di lokasi,” ujar Prof. Annytha.
Koordinator Pusat Layanan KKN LPPM Undana, Ir. Markus Sinlae, M.Sc.Ag., menyebutkan 1.515 mahasiswa tersebut didistribusikan ke dalam lima skema strategis. Pertama, skema KKN Reguler sebanyak 915 mahasiswa yang ditempatkan di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Rote Ndao, Ngada, Sumba Timur, dan Sumba Tengah.
Empat skema lainnya merupakan program kolaborasi sektoral, meliputi KKN Tematik kemitraan dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebanyak 30 mahasiswa, KKN Tematik Gentaskin bersama LLDIKTI Wilayah XV sebanyak 400 mahasiswa, dan KKN Tematik Stunting kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi NTT sebanyak 60 mahasiswa yang dipusatkan di Kota Kupang.
Terakhir, skema KKN Tematik Infrastruktur hasil kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melibatkan 110 mahasiswa yang diterjunkan ke Kabupaten Sumba Timur, Sumba Barat Daya, dan Rote Ndao. Pada skema infrastruktur ini, mahasiswa diwajibkan menyusun rencana aksi (action plan) ketat sejak minggu pertama hingga akhir masa bakti.
Acara pelepasan ini turut dihadiri oleh Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undana, Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., beserta jajaran pimpinan universitas.
Selain kesiapan program kerja, aspek sosiologis dan adaptasi kultural juga menjadi sorotan utama peserta. Tabita Silaban, mahasiswi Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undana yang menjadi salah satu perwakilan peserta, menegaskan bahwa pemahaman terhadap norma kesopanan dan adat istiadat setempat adalah fondasi paling krusial bagi mahasiswa.
“Hal pertama yang wajib dimiliki mahasiswa adalah etika dan norma kesopanan. Kita harus melebur dan menyesuaikan diri dengan budaya di NTT. Jangan sampai aktivitas kita menyalahi adat istiadat di desa dan menyinggung perasaan masyarakat lokal,” ungkap Tabita.
Transformasi program pengabdian Undana melalui pembagian lima skema taktis yang berbasis kolaborasi kementerian dan lintas kampus ini membawa dampak perubahan yang signifikan bagi percepatan pembangunan di NTT. Selama ini, program KKN mahasiswa sering kali dikritik karena berjalan secara acak, kurang terkoordinasi, dan program kerjanya cenderung repetitif tanpa menyentuh akar masalah sosiografis desa.
Melalui pembagian klaster yang spesifik ini, Undana secara langsung mengintegrasikan tenaga kerja intelektualnya ke dalam program prioritas nasional dan daerah.
Dampaknya, masalah kronis NTT seperti angka stunting yang tinggi, kemiskinan ekstrem (Gentaskin), hingga keterbatasan infrastruktur dasar di wilayah pelosok dapat diintervensi secara langsung oleh mahasiswa dengan sokongan logistik dari mitra strategis seperti Kementerian PU dan Pemprov. Pola ini memastikan bahwa kehadiran 1.515 mahasiswa di tujuh daerah selama dua bulan ke depan tidak sekadar menghasilkan luaran formalitas, melainkan menjadi motor penggerak pembangunan yang terukur dan berkelanjutan di tingkat tapak. (ando)





