Guru Dan Dosen Di NTT Ikut Lokakarya Bahasa Inggris

KETERANGAN : Para guru dan dosen mengikuti lokakarya (workshop) profesional bertajuk “Rethinking ELT Creative Teaching and Reflective Practice” di Aula Pusat Bahasa Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu, 23–24 Juni 2026. Foto/HO Humas Undana
KETERANGAN : Para guru dan dosen mengikuti lokakarya (workshop) profesional bertajuk “Rethinking ELT Creative Teaching and Reflective Practice” di Aula Pusat Bahasa Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu, 23–24 Juni 2026. Foto/HO Humas Undana

“Dunia sudah sangat maju. Harapan saya ke depan, tidak ada lagi sentimen bahwa aksen atau kosakata tertentu lebih baik atau lebih keren dari yang lain. Ini akan menginspirasi murid-murid saya di Kupang agar tidak perlu merasa malu atau rendah diri lagi saat berbicara bahasa Inggris,” kata  Sam.

KUPANG, MEDIASINTT.COM –  Bahasa Inggris di era modern bukan lagi milik mutlak satu atau dua negara, melainkan telah bertransformasi menjadi bahasa global yang kaya akan keunikan aksen dan variasi budaya. Semangat merayakan keberagaman linguistik inilah yang dibawa oleh pakar bahasa dari Indiana State University, Amerika Serikat, Prof. Leslie Barratt, dalam lokakarya (workshop) profesional bertajuk “Rethinking ELT Creative Teaching and Reflective Practice” di Aula Pusat Bahasa Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, yang berlangsung pada Selasa hingga Rabu, 23–24 Juni 2026.

Bacaan Lainnya

Lokakarya tingkat tinggi ini merupakan bagian dari rangkaian agenda tahunan akbar International Education Fair 2026 yang dimotori oleh International Relations Office (IRO) Undana.

Mengusung tema “Unlock Tomorrow: Skills, Passions, and Purposes”, pelatihan intensif ini dirancang khusus untuk membekali para dosen, guru, serta praktisi pendidikan di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan keterampilan global dan orientasi pengajaran yang adaptif serta melampaui sekat kaku kurikulum buku teks konvensional.

Dalam paparannya, Prof. Leslie Barratt menekankan bahwa bahasa Inggris saat ini telah berkembang menjadi Worldwide Englishes yang menuntut fleksibilitas tinggi. Ia mengkritik metode pedagogi lama yang mengurung siswa dalam satu set aturan tata bahasa (grammar) dan kosakata yang seragam tanpa mengenalkan realitas komunikasi internasional.

“Kita tidak bisa lagi mengajarkan bahasa Inggris hanya sebagai sesuatu yang kaku di dalam buku teks. Kemampuan yang tertera di laporan hasil tes sering kali hanya mencerminkan kapasitas siswa pada satu hari itu dan di satu jenis tes saja. Itu bukan gambaran utuh dari apa yang sebenarnya bisa mereka lakukan dalam berkomunikasi,” kritik Prof. Leslie tajam.

Pakar asal Amerika Serikat ini juga menyoroti tantangan struktural yang dihadapi para guru, yakni besarnya tekanan terhadap standarisasi tes baku serta bias pemeringkatan sekolah atau universitas. Menurutnya, esensi utama dari mempelajari sebuah bahasa adalah keberhasilan dalam mentransfer informasi dan membangun komunikasi, bukan sekadar menghafal rumus demi meloloskan diri dari lembar ujian.

Perspektif baru mengenai World Englishes dan Reflective Practice ini memantik diskusi hangat sekaligus apresiasi mendalam dari para peserta. Sam Hadjo, S.Pd., seorang supervisor di salah satu sekolah Kristen internasional di Kupang, mengakui bahwa materi tersebut membuka mata para pengajar untuk mengikis stigma aksen superior dalam berbahasa Inggris.

Sam Hadjo, S.Pd., salah satu peserta kegiatan dan seorang supervisor di salah satu sekolah Kristen internasional di Kupang

“Dunia sudah sangat maju. Harapan saya ke depan, tidak ada lagi sentimen bahwa aksen atau kosakata tertentu lebih baik atau lebih keren dari yang lain. Ini akan menginspirasi murid-murid saya di Kupang agar tidak perlu merasa malu atau rendah diri lagi saat berbicara bahasa Inggris,” tutur Sam.

Meski demikian, Sam tidak menampik adanya benturan realitas di lapangan, terutama ketika metode fleksibel ini dihadapkan pada sistem evaluasi formal atau ujian nasional sekolah yang belum adaptif.

Apresiasi serupa diutarakan oleh Kepala SMAN 2 Kupang Barat, Swastisari Y. Oematan, S.Pd. Ia menilai pemahaman mengenai diferensiasi bahasa Inggris idealnya sudah harus diperkenalkan sejak tingkat sekolah dasar agar anak-anak di NTT tidak kebingungan saat mendengar perbedaan pengucapan (pronunciation) dari berbagai penutur di dunia.

Dikenalkannya konsep World Englishes oleh IRO Undana kepada para pendidik di Kupang membawa dampak perubahan paradigma yang sangat strategis bagi masa depan penetrasi SDM NTT di kancah internasional. Selama ini, banyak pelajar dan mahasiswa di NTT mengalami sindrom ketidakpercayaan diri (linguistic anxiety) dan takut berbicara bahasa Inggris hanya karena merasa aksen daerah mereka tidak terdengar seperti penutur asli (native speakers) Amerika Serikat atau Inggris.

Dengan mendemistifikasi bahwa semua aksen dan ragam bahasa Inggris di dunia memiliki derajat yang setara dalam komunikasi global, lokakarya ini meruntuhkan tembok mental penghambat tersebut.

Ketika para guru dan dosen di NTT mulai berani mengajar melampaui batasan buku teks standar, mereka sedang mencetak generasi baru yang tidak sekadar cakap secara teoritis, tetapi memiliki ketangguhan mental untuk berkomunikasi, bernegosiasi, dan bersaing di panggung global dengan bangga tanpa harus menanggalkan identitas ketimuran mereka. (SELVI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *