“Kekuasaan itu bisa menjadi racun dan membuat orang lupa diri. Saya tidak mau hal itu terjadi dalam kepemimpinan saya. Cara agar kita tetap eksis dan selamat adalah dengan terus menjaga komunikasi dan merawat kerendahan hati,” tegas Prof. Jefri.
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., resmi melantik empat wakil rektor baru pada Senin (29/6/2026) dan keempat pejabat struktural lingkup Undana ini masih berusia muda.
Rektor Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., memperingatkan jajarannya agar mewaspadai “paradoks kekuasaan” serta menuntut komitmen kerja total yang siap menghadapi kritik hingga hujatan publik.
Pelantikan ini menjadi momentum penting reposisi struktural di kampus terbesar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Empat pejabat teras yang dilantik adalah Prof. Dr. drh. Annytha I. R. Detha, M.Si. (Wakil Rektor I Bidang Akademik), Prof. Dr. Paul Gabriel Tamelan, M.Si. (Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan), Dr. Rudi Rohi, S.H., M.Si. (Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni), serta Prof. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D. (Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi)
Prof. Jefri Bale yang baru saja kembali dari Sarasehan Kebangsaan di Jakarta, mengaitkan wejangan Presiden RI Prabowo Subianto dengan dinamika internal kampus.
Ia secara spesifik membedah konsep sosiologis terkait paradoks kekuasaan, di mana seorang pemimpin kerap kehilangan empati, loyalitas, dan kecerdasan sosial justru setelah mereka memegang tongkat jabatan.
“Kekuasaan itu bisa menjadi racun dan membuat orang lupa diri. Ini catatan dari Prof. Fred Benu dan Prof. Maxs Sanam. Saya tidak mau hal itu terjadi dalam kepemimpinan saya. Cara agar kita tetap eksis dan selamat adalah dengan terus menjaga komunikasi dan merawat kerendahan hati,” tegas Prof. Jefri.
Rektor meminta para wakil rektor baru untuk menebalkan telinga dan mentalitas kerja, karena menurutnya pejabat publik di lingkungan akademis tidak boleh reaktif atau larut dalam penilaian negatif.
Ia mengutip prinsip kepemimpinan nasional, ia berseloroh bahwa jika seseorang ingin aman dari kritik dan fitnah, maka jalan satu-satunya adalah tidak mengatakan apa-apa, tidak berbuat apa-apa, dan tidak menjadi apa-apa.
“Namun, itu bukan pilihan bagi kita. Kalau mau yang biasa-biasa saja ya diam saja, toh gaji tetap jalan. Tetapi jika ingin membawa perubahan, harus siap dimarahi, difitnah, dan dihujat publik. Terima semua masukan itu untuk perbaikan,” jelasnya.
Prof. Jefri juga menggemakan slogan taktis yang harus diinternalisasi oleh keempat pembantunya, yaitu: “Know the problem, face the problem, and solve the problem” (Pahami masalahnya, hadapi masalahnya, dan selesaikan masalahnya). Ia juga meminta publik tidak mengaitkan mutasi organisasi ini dengan dinamika politik suksesi pemilihan rektor yang telah usai, karena pergeseran jabatan adalah hal yang lumrah demi penyegaran institusi.
Sebagai penutup wejangannya, Rektor melontarkan pertanyaan reflektif yang diadopsi dari pesan Presiden Prabowo guna menguji integritas batin para pejabat baru. Ia meminta seluruh pimpinan untuk rajin berkaca dengan dua pertanyaan mendasar: “Are you the problem?” (Apakah justru Anda yang menjadi sumber masalahnya?) dan “Have I done the right thing?” (Apakah saya sudah menjalankan tanggung jawab saya dengan benar?).
Dengan pembagian tugas yang jelas—di mana Warek I mengawal mutu akademik, Warek II menjaga tata kelola keuangan, Warek III menggerakkan potensi alumni-mahasiswa, dan Warek IV memperkuat lini akuntabilitas perencanaan, kemitraan lintas sektor serta humas institusi—keempatnya dituntut langsung bekerja tanpa masa orientasi yang berbelit-belit.
Ketegasan Rektor Undana dalam menekankan bahaya “paradoks kekuasaan” dan kewajiban siap dihujat saat pelantikan empat wakil rektor baru ini membawa dampak perubahan kultural yang sangat krusial bagi ekosistem birokrasi kampus di NTT. Selama ini, jabatan wakil rektor di banyak perguruan tinggi daerah sering kali dipandang sebagai “fasilitas hadiah” atau simbol prestise feodal yang membuat pejabatnya eksklusif, sulit ditemui, dan cenderung mencari aman dengan menghindari konflik struktural.
Sikap pasif dan kompromis tersebut kerap membuat persoalan menahun kampus—seperti komersialisasi pendidikan, lambatnya pencairan anggaran riset, hingga mandeknya prestasi mahasiswa—menjadi terbengkalai.
Melalui doktrin face and solve the problem yang ditegaskan Prof. Jefri Bale, Undana secara radikal sedang memotong rantai birokrasi yang kaku tersebut. Keharusan bagi para wakil rektor untuk siap dikritik dan melakukan otokritik (Are you the problem?) memaksa gerbong kepemimpinan baru ini bertindak sebagai eksekutor lapangan yang transparan. Dampak jangka panjangnya, sivitas akademika dan masyarakat NTT akan mendapatkan layanan pendidikan yang jauh lebih bersih, responsif, serta bebas dari praktik nepotisme internal pasca-suksesi kampus. (ben)





