Tingginya Prevalensi Stunting Di NTT Akibat Belum Maksimalnya Kerja Kolaborasi

Dekan FISIP Undana, Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si.,
Dekan FISIP Undana, Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si.,

“Riset seperti inilah yang membuat perbedaan dan membantu organisasi menentukan cara terbaik dalam mendukung keluarga, baik secara fisik maupun spiritual,” ujar Field Manager of Indonesia for Kingdom Workers (organisasi induk The Meros Center), Coral Cady-Metcalfe.

KUPANG,MEDIASINTT.COM –  Dekan FISIP Undana, Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., mengatakan masih tingginya prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur terjadi akibat masalah pada formulasi dan implementasi kebijakan, serta belum maksimalnya kolaborasi antaraktor.

Hal itu dikatakan Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., dalam seminar diseminasi hasil penelitian di Aula FISIP Undana, Kupang, pada Selasa (21/7/2026).

Bacaan Lainnya

Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) berkolaborasi dengan The Meros Center, USA, menggelar seminar diseminasi hasil bertajuk “Understanding the Socio-Cultural and Religious Factors on Stunting Prevalence in East Nusa Tenggara” ini dihadiri akademisi, mahasiswa, peneliti, perwakilan pemerintah, LSM, hingga masyarakat umum guna memaparkan temuan riset serta memperkuat komitmen internasional dalam penanganan stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui pendekatan sosial-budaya dan keagamaan.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk menukar perspektif interdisipliner dalam menjawab tingginya angka stunting.

Prof. Dr. Drs. William Djani, M.Si., mengungkapkan bahwa prevalensi stunting nasional yang dicatat Bank Dunia (2022) berada pada angka 31,8 persen, sementara di Provinsi NTT prevalensinya masih mencatatkan angka 33,1 persen  pada tahun 2025.

Dari perspektif administrasi publik, Prof. Wiliam Djani menilai stunting terjadi akibat masalah pada formulasi dan implementasi kebijakan, serta belum maksimalnya kolaborasi antaraktor.

Sementara dari sudut pandang sosiologi, faktor budaya memegang peranan penting. Ia berharap kolaborasi riset ini dapat berlanjut pada program pengabdian masyarakat, publikasi jurnal internasional bereputasi, hingga peningkatan akreditasi program studi.

Sementara itu  Ketua Tim Peneliti Undana, Dr. Yeheskiel A. Roen, M.Si., memaparkan bahwa riset ini mengacu pada temuan hipotetis (The Lancet, 2013) yang menunjukkan bahwa 70 persen  penanggulangan stunting justru ditentukan oleh faktor non-medis, sedangkan aspek medis hanya berkontribusi sebesar 30 persen. Sayangnya, penanganan stunting di Indonesia sejauh ini masih cenderung berfokus pada aspek medis semata.

Berdasarkan penelaahan terhadap 500 artikel selama 10 tahun terakhir, observasi dan wawancara di Desa Kesetnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), serta Focus Group Discussion (FGD) lintas sektor, tim peneliti merumuskan lima strategi intervensi utama:

Transformasi Komunitas Belajar (Community-based Caregiving): Mendidik keluarga besar (extended family) yang turut terlibat dalam pengasuhan anak di NTT.

Reinterpretasi Budaya: Mentransformasi mitos lokal, seperti anggapan kolostrum sebagai ‘ASI basi’, agar selaras dengan pemahaman medis.

Intervensi Relasi Gender: Mengurangi beban ganda ibu dengan meningkatkan keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan.

Penguatan Sistem Pangan Rumah Tangga: Mengoptimalkan konsep 3K (Kandang, Kebun, Kolam) untuk kemandirian pangan.

Integrasi Jejaring Sosial Gereja dan Desa: Memanfaatkan lembaga keagamaan sebagai pihak terpercaya di tingkat desa.

“Riset seperti inilah yang membuat perbedaan dan membantu organisasi menentukan cara terbaik dalam mendukung keluarga, baik secara fisik maupun spiritual,” ujar Field Manager of Indonesia for Kingdom Workers (organisasi induk The Meros Center), Coral Cady-Metcalfe.

Dalam pemaparannya, Coral Cady-Metcalfe menjelaskan bahwa The Meros Center berfokus mendukung pelayanan kesehatan melalui riset, pelatihan, serta pendampingan keluarga dengan anak disabilitas. Lewat fokus pada sektor WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), ia menekankan bahwa penyediaan air bersih dan sanitasi di daerah terpencil berdampak langsung pada kesehatan anak.

Perwakilan The Meros Center, Julia Walters dan Claire Marcus, mengapresiasi temuan riset yang kaya akan nilai lokal tersebut. Coral turut menambahkan pentingnya mengedukasi para tokoh agama di lapangan. Menurutnya, pendeta merupakan figur yang sangat dihormati di desa, sehingga jika mereka memiliki pemahaman yang cukup mengenai dampak buruk stunting, edukasi kesehatan kepada jemaat akan jauh lebih efektif.

Seminar diseminasi ini ditutup dengan harapan agar hasil riset dapat menjadi acuan perumusan kebijakan yang sensitif terhadap konteks lokal serta menginspirasi aksi nyata masyarakat demi meningkatkan kualitas hidup anak-anak di NTT.

“Jika dilihat dari perspektif administrasi publik, stunting sebenarnya terjadi karena masalah pada kebijakan publik, baik dari aspek policy formulation maupun policy implementation,” tegas Dekan FISIP Undana, Prof. Wiliam Djani.

Diseminasi riset kolaboratif antara FISIP Undana dan The Meros Center USA ini membawa dampak perubahan paradigma yang sangat krusial bagi strategi penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selama ini, program penanggulangan stunting oleh pemerintah daerah cenderung terjebak pada pendekatan medis semata—seperti pembagian biskuit atau vitamin—tanpa pernah menyentuh akar masalah yang sebenarnya, yaitu faktor sosio-kultural, mitos kesehatan usang, ketimpangan relasi gender, serta minimnya saniter. Ketiadaan intervensi pada 70% faktor non-medis ini menyebabkan angka prevalensi stunting di NTT tetap tinggi di level 33,1%, meskipun anggaran penanganan terus dikucurkan.

Pola penanganan yang berfokus tunggal pada aspek medis tersebut terbukti tidak efektif dan menyebabkannya gagal menekan angka stunting secara signifikan. Melalui pembuktian ilmiah berbasis data lapangan dan pelibatan jejaring gereja serta tokoh agama ini, kekeliruan pendekatan tersebut resmi dikoreksi. Pemerintah daerah dan lembaga penanganan stunting memiliki peta jalan intervensi berbasis riset yang presisi, mulai dari reinterpretasi mitos lokal hingga penguatan sistem pangan 3K di tingkat rumah tangga.

Pengolahan edukasi melalui figur pendeta dan pemuka agama lokal dijamin meningkatkan efektivitas penerimaan pesan kesehatan oleh jemaat desa. Langkah strategis ini membuktikan peran FISIP Undana dan mitra internasionalnya dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang sensitif budaya demi menyelamatkan masa depan dan kualitas hidup anak-anak di Nusa Tenggara Timur. (ben)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *