KUPANG,MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) menerjunkan kloter keempat mahasiswa relawan dari Fakultas Sains dan Teknik (FST) untuk menangani kerusakan infrastruktur pascagempa bumi di Pulau Flores.
Pelepasan resmi relawan berlangsung di Lobi Rektorat Undana, Kupang, pada Kamis (3/9/2026), oleh Rektor Undana Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng didampingi Wakil Rektor III Dr. Rudi Rohi, M.Si., Wakil Rektor IV sekaligus Plt. Dekan FST Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., serta jajaran pimpinan dan dosen FST.
Berbeda dari tiga kloter sebelumnya yang berfokus pada distribusi logistik, pelayanan kesehatan, dan pendampingan masyarakat, tim relawan FST ini membawa misi khusus dalam pemulihan fisik.
Mengusung skema program Magang Berdampak Peduli Bencana Gempa Flores, para mahasiswa akan bertugas selama kurang lebih satu bulan di area pemulihan bencana sebelum melanjutkan magang bersama mitra hingga total durasi tiga sampai empat bulan agar dapat direkognisi setara 20 Satuan Kredit Semester (SKS).
“FST menjadi bagian tak terpisahkan dari Undana. Mahasiswa kami kali ini fokus pada penanganan infrastruktur yang rusak pascagempa Flores, seperti keretakan bendungan, sarana jalan yang terputus, longsoran, mitigasi, hingga penyediaan air bersih. Bencana di Flores tidak hanya gempa tektonik, tetapi juga aktivitas gunung berapi dan gempa vulkanik, sehingga kami bermitra dengan BWS Bali Nusra dan Dinas ESDM Provinsi NTT,” jelas Wakil Dekan II FST Undana, Dr. Ir. Erich Umbu Kondi Maliwemu, S.T., M.Eng.
Tim relawan FST Undana dialokasikan di dua wilayah terdampak, yakni Maumere dan Ende, untuk menangani dampak gempa tektonik maupun aktivitas vulkanik gunung berapi.
Mahasiswa bertugas mengidentifikasi serta menginventarisasi kerusakan infrastruktur, meliputi pemeriksaan keretakan bendungan, pendataan jalan terputus, pemetaan titik longsor, mitigasi risiko bencana lanjutan, serta penanganan masalah penyediaan air bersih bagi warga.
Guna memastikan validitas penanganan teknis di lapangan, FST Undana menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah lembaga teknis resmi, di antaranya instansi bidang geologi dan kebencanaan,
Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Nusra, serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTT.
Rektor Undana Prof. Jefri Bale menekankan agar seluruh relawan memprioritaskan kondisi kesehatan pribadi, memperkuat koordinasi dengan lembaga resmi lokal, serta menjaga kesabaran dan empati tinggi saat berinteraksi dengan masyarakat terdampak trauma bencana. Pihak rektorat menginstruksikan agar tugas kemanusiaan ini berjalan serasi dengan pemenuhan capaian akademik.
“Kehadiran adik-adik di lapangan merupakan hal yang baik dan menjadi bentuk kepedulian kita sebagai bagian dari masyarakat Nusa Tenggara Timur. Adik-adik harus tetap menjaga kesehatan. Kita bukan memiliki fungsi utama untuk menangani seluruh persoalan di sana, tetapi hadir memberikan dukungan. Koordinasi dan komunikasi dengan dosen maupun instansi sangat penting. Tugas utama adalah menyelesaikan mata kuliah melalui program magang, jadi kewajiban akademik jangan dilupakan,” tegas Rektor Undana.
Pengiriman relawan teknik secara spesifik ini memangkas risiko timbulnya bahaya sekunder akibat kerusakan fasilitas umum dan kelangkaan air bersih di Maumere dan Ende. Tanpa adanya inventarisasi teknis yang cepat pada struktur bendungan, akses jalan, dan potensi longsoran pascagempa, proses rekonstruksi wilayah terdampak berpotensi terhambat serta membahayakan keselamatan publik.
Melalui integrasi magang 20 SKS ini, Undana memastikan proses pemulihan infrastruktur Flores berjalan terukur sekaligus memberikan pengalaman kerja lapangan nyata bagi mahasiswa. (ben)





