”Undana memegang teguh prinsip zero tolerance dan tidak menoleransi adanya kekerasan maupun pelanggaran etika dalam bentuk apa pun di lingkungan kampus,” tegas Prof. Philiphi.
KUPANG,MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) memiliki komitmen kuat untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun tindakan sewenang-wenang dilakukan oknum tenaga pengajar atau dosen terhadap mahasiswa.
Hal itu dikatakan Wakil Rektor IV Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., didampingi Dekan FKM Prof. Dr. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., serta Wakil Dekan I FKM Dr. Yendris K. Syamruth, S.KM., M.Kes kepada wartawan di Kupang, Kamis.
Wakil Rektor IV Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari menegaskan hal itu terkait adanya video mahasiswi Program Studi (Prodi) S1 Kesehatan Masyarakat , Jessica Sonia Tunarjo yang viral di media sosial karena diduga mengalami tekanan atas tugas akhir yang tengah dijalani.
“Undana memiliki komitmen kuat untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun tindakan sewenang-wenang oleh oknum tenaga pengajar,” kata Prof. Dr. Philiphi de Rozari.
Ia mengatakan, pihak universitas saat ini sedang melakukan investigasi secara menyeluruh agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar berdasarkan fakta yang valid dan objektif.
”Pada prinsipnya, Undana memegang teguh prinsip zero tolerance dan tidak menoleransi adanya kekerasan maupun pelanggaran etika dalam bentuk apa pun di lingkungan kampus. Saat ini kami masih berada pada tahap pendalaman sehingga masyarakat diharapkan bersabar menunggu hasil investigasi yang objektif,” tegas Prof. Philiphi.
Menurutnya, Undana ingin memastikan seluruh informasi yang berkembang di masyarakat dapat diluruskan melalui proses klarifikasi yang adil dan transparan terhadap semua pihak yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Di samping penegakan etika institusional, FKM Undana mengedepankan sisi kemanusiaan. Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral, Prof. Apris bersama jajaran pimpinan fakultas langsung mengunjungi Jessica yang saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Wirasakti, kemarin.
Dalam kunjungan tersebut, pimpinan fakultas bertemu langsung dengan orang tua angkat Jessica yang selama ini mendampinginya sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Menurut Prof. Apris, kedatangan jajaran dekanat diterima dengan baik oleh ibu angkat Jessica, sembari bercerita tentang perkembangan yang dialami Jessica. Kedatangan pimpinan FKM tersebut semata-mata untuk memberikan dukungan moral agar Jessica dapat segera pulih dari kondisi yang dialaminya.
”Kami datang sebagai orang tua. Kami ingin memberikan semangat kepada Jessica agar cepat pulih, baik secara fisik maupun mental, sehingga nantinya dapat kembali menjalani aktivitas akademiknya dengan baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pihak fakultas akan terus melakukan kunjungan berkala sebagai bentuk perhatian dan empati kepada mahasiswi tersebut selama menjalani masa pemulihan.
Prof. Apris memastikan bahwa Jessica tidak akan menghadapi persoalan ini seorang diri. Setelah kondisi kesehatannya dinyatakan membaik oleh tim medis, Undana akan memberikan pendampingan psikologis melalui kolaborasi dengan tenaga profesional, termasuk dari Program Studi Psikologi FKM Undana.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi mental Jessica secara utuh sehingga ia siap kembali mengikuti proses akademik dengan aman dan tenang.
“Kami akan melihat perkembangan kesehatannya terlebih dahulu. Setelah dokter menyatakan kondisinya memungkinkan, kami akan memberikan pendampingan psikologis agar ia dapat kembali melanjutkan studinya dengan baik,” ujar Prof. Apris.
Mengenai dugaan pembatalan ujian skripsi yang ramai dibicarakan masyarakat, pimpinan fakultas menjelaskan bahwa proses klarifikasi masih berlangsung secara menyeluruh.
Pihak fakultas telah berupaya berkoordinasi aktif dengan dosen pembimbing maupun dosen penguji. Namun salah satu dosen penguji disebut sedang berada dalam suasana duka, sementara dosen pembimbing masih berada di luar daerah sehingga belum seluruh keterangan dapat diperoleh secara lengkap.
Karena itu, FKM Undana meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum proses investigasi selesai dilakukan.
“Kami ingin memperoleh gambaran yang utuh dari seluruh pihak yang terlibat. Setelah semua data terkumpul, kami akan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada masyarakat,” tegas Dekan FKM.
Di akhir konferensi pers, Prof. Philiphi kembali menegaskan komitmen rektorat untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki sistem pelayanan akademik agar peristiwa serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
Undana juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap memberikan kepercayaan kepada institusi pendidikan kebanggan masyarakat NTT ini dalam menyelesaikan persoalan ini secara profesional, objektif, tegas, dan tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. (ben)





