Jejak Kota Kupang Masa Lalu Hidup Kembali Lewat Festival Budaya

“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.

KUPANG,MEDIASINTT.COM  – Pantai  Lai-Lai Bisi Kopan  (LLBK) yang kerap kali disebut sebagai Pantai Kopan bukan sekadar ruang terbuka di tepian Kota Kupang, ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bacaan Lainnya

Kawasan pantai ini  ini menyimpan sejarah panjang masa lalu penuh cerita tentang perjumpaan berbagai komunitas dan kebudayaan yang ikut membentuk wajah kota yang sangat beragam.

Jejak itu kembali bangkit  melalui Festival Pecinan Event Budaya Multietnis Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) yang mengangkat tema “Merajut Budaya dalam Harmoni”, Jumat (4/9).

Selama dua hari, kawasan Pantai Kopan menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi dan kreativitas masyarakat. Beragam ekspresi budaya ditampilkan bukan untuk mempertentangkan perbedaan, tetapi menunjukkan bagaimana keberagaman dapat dirangkai menjadi kekuatan bersama.

Festival tersebut secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., di Pantai Kopan, Kelurahan LLBK. Turut hadir Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H., jajaran pimpinan perangkat daerah, camat dan lurah se-Kecamatan Kota Lama, Ketua Panitia Antoni Niti Susanto, Ketua LPM Kelurahan LLBK, Tjiang Hemdi, serta tokoh masyarakat dan warga setempat.

Dalam sambutannya, Sekda menegaskan bahwa festival budaya memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar pertunjukan seni. Festival menjadi ruang untuk saling mengenal, menghargai dan merawat keberagaman yang selama ini hidup berdampingan di Kota Kupang.

“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.

Menurutnya, keberagaman merupakan modal sosial penting dalam membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama. Karena itu, nilai budaya dan sejarah tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu. Keduanya harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

“Kita tidak sedang mempertahankan perbedaan untuk saling menjauh. Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegasnya.

Jeffry mendorong agar kawasan Kota Tua terus dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kawasan yang memiliki nilai historis tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang produktif bagi masyarakat hari ini. “Jadikan Kota Kupang ini sebagai rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesannya.

Pemilihan Pantai Kopan sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Ketua Panitia, Antoni Niti Susanto, menjelaskan kawasan LLBK merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan Kota Kupang. Kawasan ini menjadi saksi perjumpaan berbagai komunitas dan bangsa, mulai dari masyarakat asli Helong, Portugis, Belanda, hingga komunitas Tionghoa dan Arab.

Sejarah perjumpaan tersebut kemudian menjadi inspirasi utama festival dengan tema “Merajut Budaya dalam Harmoni”. Antoni mengatakan, festival diharapkan menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekat, melainkan kekuatan yang dapat mempererat kebersamaan.

“Melalui festival ini, kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” katanya.

Harapan itu sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Kupang agar kegiatan budaya tidak berhenti pada pelestarian tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Suasana festival juga diwarnai kepedulian terhadap masyarakat Flores yang tengah menghadapi bencana alam. Sebelum rangkaian acara dilanjutkan, panitia bersama seluruh jajaran yang hadir menggelar hening cipta sebagai bentuk simpati dan duka cita bagi para korban dan masyarakat terdampak.

Momen tersebut menjadi pengingat bahwa perayaan budaya tidak membuat masyarakat kehilangan kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan.

Jeffry mengajak masyarakat terus mendoakan warga terdampak gempa serta menjaga semangat gotong royong dan solidaritas.

Ia juga menyampaikan bahwa beberapa waktu sebelumnya, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, telah menjalankan misi kemanusiaan selama kurang lebih lima hari dengan mengunjungi enam kabupaten di Pulau Flores.

Dalam misi tersebut, Pemerintah Kota Kupang menyalurkan bantuan senilai kurang lebih Rp635 juta, yang bersumber dari APBD dan donasi ASN Pemerintah Kota Kupang.

Festival berlangsung selama dua hari dengan rangkaian kegiatan yang memadukan tradisi, seni dan hiburan. Hari pertama diisi karnaval budaya multietnis, pertunjukan Natoni, atraksi Barongsai, stand-up comedy, tari-tarian tradisional serta konser musik live. Sementara hari kedua menghadirkan lomba busana atau fashion show tingkat TK, pentas seni anak-anak, pembacaan puisi, tari Tobe bersama dan penutupan festival.  (Enjel Lasbaun/ben)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *