“Kita perlu melihat bagaimana budaya dan kehidupan sosial masyarakat Ngada, termasuk kecintaan terhadap sepak bola dan tari-tarian kreasi yang ada, kemudian dirumuskan dalam sebuah formula melalui riset sehingga memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini. Jika dianalisis secara serius, hasil riset itu bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan yang berpihak pada potensi sumber daya manusia yang dimiliki daerah ini,” ujar Prof. Jefri
BAJAWA,MEDIASINTT.COM – Universitas Nusa Cendana (Undana) menyatakan kesiapannya untuk melakukan pendekatan riset ilmiah terhadap ekosistem olahraga sepak bola di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Komitmen ini mengemuka saat peluncuran Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Undana Berdampak yang diselenggarakan di Aula Setda Ngada pada Selasa (14/7/2026).
Langkah taktis ini diambil guna menyusun kajian akademis yang dapat dijadikan arah kebijakan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan potensi olahraga serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, S.T., M.Eng., menyambut positif usulan yang didorong oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ngada tersebut.
Menurutnya, Ngada merupakan salah satu kiblat sepak bola di NTT yang melahirkan talenta-talenta terbaik di tingkat provinsi hingga nasional, sehingga fanatisme dan budaya olahraga masyarakat setempat memiliki potensi ekonomi yang sangat besar apabila dikelola menggunakan pendekatan sains.
Guna merumuskan formula kebijakan yang berdaya saing, riset perguruan tinggi ini dirancang untuk membedah keterkaitan antara kecintaan masyarakat pada sepak bola, kehidupan sosial, hingga seni budaya lokal seperti tari-tarian kreasi. Rektor Undana mencontohkan keberhasilan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata premium yang mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah.
Analisis serius terhadap potensi sumber daya manusia dan industri olahraga di Ngada diharapkan mampu menjadi fondasi penyusunan kebijakan yang menggerakkan sektor ekonomi kreatif serta pariwisata.
Penerapan riset ini diperkuat oleh pengerahan 7 guru besar dan 124 dosen Undana yang diterjunkan ke Kabupaten Ngada melalui Program Undana Berdampak. Tim akademisi multidisiplin tersebut melaksanakan pengabdian di 15 desa dan kelurahan yang tersebar di tujuh kecamatan mitra, serta menyasar sejumlah sekolah yang telah dipetakan sebagai lokasi kegiatan.
“Saya setuju. Kita perlu melihat bagaimana budaya dan kehidupan sosial masyarakat Ngada, termasuk kecintaan terhadap sepak bola dan tari-tarian kreasi yang ada, kemudian dirumuskan dalam sebuah formula melalui riset sehingga memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan saat ini. Jika dianalisis secara serius, hasil riset itu bisa menjadi dasar penyusunan kebijakan yang berpihak pada potensi sumber daya manusia yang dimiliki daerah ini,” ujar Prof. Jefri pada Selasa (14/7/2026).
Inisiasi riset ini lahir dari dorongan Ketua DPRD Kabupaten Ngada, Romilus Juji. Politisi Partai Golkar tersebut menilai bahwa antusiasme tinggi masyarakat terhadap sepak bola telah menjadi kekuatan besar yang berhasil mengantarkan klub PSN Ngada mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Namun, keterikatan antara sepak bola, budaya, dan jiwa seni masyarakat Ngada membutuhkan kajian akademis agar mampu membentuk ekosistem olahraga yang lebih terstruktur serta berkelanjutan.
Ketua DPRD Ngada berharap agar melalui riset terpadu bersama Undana ini dapat lahir rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah. Rekomendasi tersebut mencakup kebutuhan pembangunan stadion berstandar, penyediaan infrastruktur pendukung bagi PSN Ngada, hingga strategi kolaborasi antara industri olahraga dan potensi budaya lokal.
“Mungkin melalui penelitian itu akan lahir rekomendasi, misalnya kebutuhan stadion berstandar, infrastruktur pendukung bagi PSN Ngada, atau bagaimana sepak bola bisa dikolaborasikan dengan budaya yang kita miliki,” ungkap Romilus Juji.
Suntikan riset akademik dari Undana terhadap kultur sepak bola di Kabupaten Ngada ini membawa dampak perubahan tata kelola olahraga yang sangat mendasar bagi pembangunan daerah. Selama ini, besarnya potensi talenta dan tinggi antusiasme masyarakat Ngada terhadap sepak bola hanya berhenti sebagai euforia kompetisi musiman tanpa pengelolaan industri yang terstruktur.
Ketiadaan dasar kajian ilmiah membuat pembangunan fasilitas olahraga, penganggaran klub, dan pembinaan atlet rawan berjalan tanpa kepastian arah, sehingga gagal memberikan dampak wirausaha maupun nilai tambah ekonomi yang nyata bagi warga setempat. Pola pengelolaan olahraga yang belum terstruktur dan minim kajian ini terbukti membatasi potensi sepak bola sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat.
Melalui perumusan kebijakan berbasis riset ilmiah oleh tim pakar Undana, stagnasi tata kelola olahraga tersebut resmi diakhiri.
Dampak jangka panjangnya, Kabupaten Ngada akan memiliki rekomendasi dan arah kebijakan pembangunan berbasis data (evidence-based policy) untuk membangun industri olahraga yang profesional. Kehadiran infrastruktur berstandar serta penggabungan antusiasme sepak bola dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif memberikan jaminan lahirnya ekosistem olahraga yang mandiri. (ben)





