“Kami ingin memperkenalkan teknologi yang tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga adaptif terhadap kondisi alam NTT yang dinamis. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi ilmiah sekaligus manfaat praktis bagi sektor kelautan daerah,” ungkap Indriyani.
KUPANG, MEDIASINTT.COM – Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan Universitas Nusa Cendana (Undana), Indriyani Kaolang Sindrang, melakukan hilirisasi teknologi melalui terobosan ganda di wilayah pesisir Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi budidaya rumput laut melalui sistem Portable Offshore Device (POD), mahasiswa tersebut juga menggalang kolaborasi bersama Yayasan Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) guna memperkuat benteng konservasi maritim di wilayah tersebut.
Inovasi keramba POD yang diuji coba di Desa Huilelot ini dirancang untuk mengatasi kendala klasik pembudidaya rumput laut, yakni kerentanan tanaman terhadap arus laut yang ekstrem.
Perangkat ini menawarkan fleksibilitas tinggi dan ketahanan struktur, sehingga mampu menjaga stabilitas pertumbuhan rumput laut di perairan dangkal secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Penerapan sistem keramba POD di Pulau Semau diproyeksikan menjadi alternatif teknologi masa depan bagi masyarakat pesisir NTT. Melalui desain yang lebih tangguh terhadap dinamika lingkungan, teknologi ini diharapkan mampu memacu produktivitas panen sekaligus meminimalkan risiko kerugian akibat kerusakan fisik tanaman.
“Kami ingin memperkenalkan teknologi yang tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga adaptif terhadap kondisi alam NTT yang dinamis. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi ilmiah sekaligus manfaat praktis bagi sektor kelautan daerah,” ungkap Indriyani.
Sejalan dengan aspek produksi, sisi kelestarian lingkungan menjadi perhatian utama melalui kemitraan dengan Yayasan Rubalang. Organisasi konservasi asal Palu ini bersama Indriyani menginisiasi diskusi bertajuk “Bincang Lingkungan Pesisir Tanpa Plastik” yang menyasar generasi muda di Pulau Semau.
Dalam forum tersebut, dipaparkan dampak destruktif perubahan iklim dan pencemaran sampah plastik yang mengancam eksistensi ekosistem pesisir. Indriyani menekankan bahwa keberhasilan budidaya perairan sangat bergantung pada keseimbangan ekologi laut yang terjaga dari polusi.
Sebagai langkah konkret di lapangan, kolaborasi ini mencakup rencana penanaman mangrove di sepanjang garis pantai Pulau Semau. Aksi ini bertujuan untuk memitigasi ancaman abrasi sekaligus menyediakan habitat alami bagi berbagai organisme laut yang mendukung rantai makanan di perairan sekitar.
Sinergi antara akademisi muda dan lembaga konservasi seperti Rubalang ini membuktikan bahwa kemajuan ekonomi kelautan harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan lingkungan. Melalui integrasi teknologi keramba POD dan edukasi maritim, mahasiswa Undana berupaya memastikan masa depan ekosistem laut NTT tetap lestari di tengah tantangan iklim global. (ade)






